Lembaga:

Dukung kami dengan donasi melalui Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58 a.n. Yayasan Fahmina

PKUP Seri Pemaju Fahmina Perkuat Kepemimpinan Ulama Perempuan Menuju KUPI III 2027

Diikuti 25 peserta dari beragam ruang khidmah, pelatihan hari pertama menegaskan pentingnya kepercayaan diri, jejaring, dan penguatan gerakan KUPI di tingkat akar rumput.

Oleh: Zaenal Abidin

Jakarta, 30 Oktober 2026 — Penguatan kepemimpinan ulama perempuan tidak cukup dilakukan melalui peningkatan pengetahuan keagamaan. Kepercayaan diri, kemampuan membangun jejaring, serta keberanian mengambil peran strategis di masyarakat juga menjadi bagian penting dari upaya memperluas gerakan. Gagasan tersebut mengemuka dalam hari pertama Pelatihan Kepemimpinan Ulama Perempuan (PKUP) Seri Pemaju yang diselenggarakan Yayasan Fahmina di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Pelatihan yang berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 ini mengusung tema “Meneguhkan Peran Ulama Perempuan di Ruang Khidmah untuk Keadilan dan Kemaslahatan Umat”. Kegiatan diikuti 25 peserta dari berbagai latar belakang dan ruang pengabdian, mulai dari pesantren, majelis taklim, perguruan tinggi, komunitas, hingga kelompok anak muda.

PKUP Seri Pemaju dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi para penggerak yang telah mengenal gerakan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) dan ingin memperkuat kontribusinya di lingkungan masing-masing. Pelatihan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem gerakan KUPI menjelang Kongres KUPI III pada 2027.

Ulama perempuan sebagai gerakan kolektif

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Fahmina, Marzuki Rais, mengingatkan bahwa istilah ulama perempuan tidak semestinya membuat perempuan merasa kurang percaya diri untuk mengambil peran dalam kehidupan keagamaan dan sosial.

Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif KUPI, ulama tidak semata-mata dipahami sebagai sebutan individual, melainkan sebagai bagian dari gerakan kolektif yang menjalankan tanggung jawab keagamaan dan kemanusiaan.

“Dalam perspektif KUPI, ulama merupakan orang yang berilmu mendalam, yang memiliki rasa takut kepada Allah, memiliki kepribadian mulia dan rahmatan lil ‘alamin,” ujarnya.

Menurut Marzuki, gerakan KUPI mempertemukan individu dan lembaga dengan latar belakang keilmuan, pengalaman sosial, serta kerja-kerja gerakan yang beragam. Perbedaan latar belakang tersebut dapat menjadi kekuatan untuk memperluas kontribusi ulama perempuan dalam menjawab persoalan masyarakat.

Karena itu, ia mendorong peserta agar tidak merasa rendah diri ketika menjalankan peran keulamaan. “Jadi tidak usah merasa minder lagi sekarang,” katanya.

Marzuki juga menekankan bahwa perjuangan ulama perempuan bukanlah upaya untuk mempertentangkan perempuan dengan laki-laki. Sebaliknya, gerakan ini diarahkan untuk membangun kehidupan yang lebih adil melalui kerja bersama dan saling menguatkan.

Ia mengaitkan pelatihan dengan agenda penguatan gerakan KUPI menjelang kongres berikutnya. Menurutnya, masih terdapat orang-orang yang telah mengikuti kegiatan KUPI atau bekerja dengan perspektif yang sejalan, tetapi belum sepenuhnya mengenali dirinya sebagai bagian dari gerakan tersebut.

Tantangan inilah yang perlu dijawab melalui proses pembelajaran, penguatan kapasitas, dan perluasan keterlibatan di ruang khidmah.

Ruang belajar untuk menguatkan jejaring

Pada sesi awal, fasilitator Roziqoh mengajak peserta saling mengenal melalui aktivitas kelompok. Peserta diminta memperkenalkan diri, menyampaikan harapan pribadi dan harapan bersama, serta menuangkannya dalam bentuk karya simbolik menggunakan benda-benda yang disediakan.

Aktivitas tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun suasana belajar yang partisipatif. Peserta tidak hanya hadir sebagai penerima materi, tetapi juga membawa pengalaman, gagasan, dan pengetahuan dari ruang pengabdian masing-masing.

Roziqoh mengingatkan peserta untuk memanfaatkan pertemuan sebagai kesempatan saling mengenal dan menguatkan.

Peserta yang hadir memiliki pengalaman beragam dalam kegiatan keagamaan, pendidikan, pendampingan masyarakat, dan kerja komunitas. Keberagaman tersebut menjadi modal untuk membangun hubungan lintas wilayah dan lintas ruang khidmah.

Dalam konteks gerakan KUPI, jejaring penting agar pengetahuan dan perspektif keagamaan yang berpihak pada keadilan tidak berhenti dalam forum pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam kegiatan pendidikan, pengorganisasian komunitas, penguatan pesantren, dan pendampingan masyarakat.

Menyiapkan peran strategis di ruang khidmah

PKUP Seri Pemaju merupakan bagian dari upaya menjembatani gagasan keagamaan transformatif dengan persoalan konkret yang dihadapi masyarakat. Di tingkat akar rumput, persoalan seperti kekerasan berbasis gender, perkawinan anak, krisis lingkungan, dan kerentanan ekonomi masih membutuhkan respons yang berpijak pada keadilan dan kemaslahatan.

Karena itu, penguatan kepemimpinan ulama perempuan perlu berjalan bersama kemampuan membaca situasi sosial, membangun kolaborasi, dan menyusun langkah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Hari pertama pelatihan menjadi fondasi untuk proses tersebut melalui pengenalan peserta, pemetaan harapan, serta pembelajaran tentang sejarah gerakan ulama perempuan. Agenda lanjutan dalam dua hari berikutnya dirancang untuk memperdalam substansi KUPI, kepemimpinan, dan penyusunan rencana tindak lanjut.

Melalui pelatihan ini, Yayasan Fahmina mendorong peserta untuk tidak hanya memahami nilai dan perspektif KUPI, tetapi juga memperkuat keberanian mengambil peran strategis di ruang khidmah masing-masing. Dengan demikian, penguatan kepemimpinan ulama perempuan diharapkan berkontribusi pada gerakan yang lebih luas untuk menghadirkan keadilan dan kemaslahatan bagi masyarakat. []

Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58 a.n. Yayasan Fahmina

Terkait

Gali Jejak Ulama Perempuan: Belajar dari Diorama Tengku Fakinah, Siti Walidah, dan Nene Muna

Oleh: Zaenal Abidin Jakarta— Sejarah ulama perempuan menyimpan banyak pelajaran tentang keberanian, penguasaan ilmu, kepemimpinan, dan kemampuan membangun gerakan bersama....

Populer

Artikel Lainnya