Lembaga:

Dukung kami dengan donasi melalui Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58 a.n. Yayasan Fahmina

Gali Jejak Ulama Perempuan: Belajar dari Diorama Tengku Fakinah, Siti Walidah, dan Nene Muna

Melalui video dan diorama, peserta diajak melihat kembali peran ulama perempuan dalam pendidikan, perjuangan sosial, dan pengembangan pengetahuan di tengah masyarakat.

Oleh: Zaenal Abidin

Jakarta— Sejarah ulama perempuan menyimpan banyak pelajaran tentang keberanian, penguasaan ilmu, kepemimpinan, dan kemampuan membangun gerakan bersama. Namun, kiprah mereka tidak selalu tercatat secara seimbang dalam narasi sejarah. Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam sesi pembelajaran sejarah ulama perempuan pada hari pertama Pelatihan Kepemimpinan Ulama Perempuan (PKUP) Seri Pemaju yang diselenggarakan Yayasan Fahmina, Jumat (30/10/2026).

Sesi yang difasilitasi Rosidin ini mengajak peserta melihat kembali perjalanan ulama perempuan melalui pemutaran video dan metode diorama. Peserta mempelajari tiga tokoh, yakni Tengku Fakinah dari Aceh, Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan, serta Tuan Guru Haji Nene Muna atau Maemunah dari Morella, Maluku Tengah.

Metode ini tidak hanya menyampaikan informasi mengenai tokoh sejarah, tetapi juga mengajak peserta mengamati peran, hubungan sosial, dan strategi yang memungkinkan para tokoh tersebut menjalankan pengabdian di lingkungan masing-masing.

Menghadirkan kembali sejarah yang terpinggirkan

Dalam pengantar sesi, peserta diajak melihat bagaimana konstruksi sejarah yang sepihak menyebabkan peran perempuan dalam perkembangan Islam di Indonesia sering tidak tercatat secara seimbang dan proporsional. Istilah ulama pun dalam pemahaman masyarakat kerap lebih dekat dengan laki-laki, sehingga keberadaan ulama perempuan kurang terlihat.

Melalui video dan diorama, peserta diajak memeriksa kembali anggapan tersebut dengan menelusuri pengalaman para tokoh perempuan yang memiliki peran penting di bidang pendidikan, perjuangan sosial, dan pengembangan pengetahuan keagamaan.

Tengku Fakinah, misalnya, diperkenalkan sebagai sosok yang mengambil peran dalam perjuangan masyarakat Aceh. Ia tidak hanya berkiprah dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga terlibat dalam pengorganisasian, penyediaan logistik, pengumpulan dana, serta perawatan orang-orang yang terluka dalam situasi perang.

Tatik Krisnawati, penyusun modul pelatihan, menyoroti kemampuan Fakinah untuk mengambil peran dalam situasi yang tidak mudah.

“Yang menarik adalah di kasus Fakinah, perempuan bergerak bukan hanya di situasi damai. Di dalam perang, sebagai agency, dia punya gagasan dan aktivitas yang sangat jelas,” ujarnya.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak selalu hadir dalam ruang formal. Kepemimpinan juga tumbuh melalui kemampuan membaca kebutuhan, mengorganisasi sumber daya, dan mengambil keputusan ketika masyarakat menghadapi situasi sulit.

Pendidikan dan dukungan sosial dalam gerakan

Tokoh kedua yang dipelajari adalah Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan, yang dikenal melalui kiprahnya dalam pendidikan dan pengorganisasian perempuan. Peserta diajak melihat bagaimana upaya pendidikan, penguatan keterampilan, dan kerja kolektif menjadi bagian dari strategi perubahan sosial.

Pembelajaran dari Siti Walidah juga menyoroti pentingnya dukungan lingkungan bagi perempuan yang menjalankan peran publik. Perjuangan membangun gerakan tidak hanya bertumpu pada kemampuan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh hubungan dengan keluarga, komunitas, dan orang-orang yang mendukung kerja pengabdian.

Hal serupa muncul ketika peserta mempelajari Tuan Guru Haji Nene Muna atau Maemunah dari Morella, Maluku Tengah. Kisahnya memperlihatkan pendekatan pembelajaran yang dekat dengan tradisi dan kehidupan masyarakat. Melalui pertemuan komunitas, pengetahuan keagamaan disampaikan dengan cara yang memungkinkan perempuan dari berbagai usia terlibat dalam proses belajar.

Diskusi peserta menyoroti bagaimana pendekatan yang berakar pada tradisi lokal dapat menjadi jalan untuk menyampaikan pengetahuan yang relevan dengan pengalaman perempuan. Salah satu refleksi yang muncul adalah pentingnya perempuan terlibat dalam menjelaskan persoalan yang berkaitan dengan pengalaman tubuh dan kehidupan perempuan, termasuk menstruasi, secara terbuka dan tidak menimbulkan rasa sungkan.

Ketiga tokoh tersebut memperlihatkan bahwa jalan pengabdian ulama perempuan tidak tunggal. Perjuangan dapat berlangsung melalui pendidikan, organisasi, penguatan pengetahuan, kerja sosial, maupun pendekatan komunitas yang kontekstual.

Diorama sebagai metode belajar partisipatif

Penggunaan diorama membuat peserta tidak hanya menjadi pendengar. Mereka diajak mengamati adegan, membaca hubungan antartokoh, dan merefleksikan strategi gerakan yang muncul dari kisah sejarah.

Dalam sesi refleksi, peserta bernama Ulfah menyampaikan bahwa salah satu hal yang berkesan baginya adalah pentingnya dukungan dalam menjalankan gerakan.

“Ketika tadi kita membahas tentang diorama, kita melihat suami-istri saling mendukung sehingga ada support system untuk gerakan,” ungkapnya.

Refleksi itu sekaligus memunculkan pertanyaan tentang bagaimana dukungan sosial dapat dibangun bagi perempuan yang tidak memiliki situasi keluarga serupa, termasuk perempuan yang hidup sendiri atau tidak menikah. Dengan demikian, pembelajaran sejarah tidak berhenti pada kekaguman terhadap tokoh, tetapi juga menjadi ruang untuk memikirkan tantangan gerakan pada masa kini.

Tatik Krisnawati menekankan pentingnya mengolah pengalaman belajar menjadi kata kunci yang dapat membantu peserta memahami persoalan secara lebih terarah. Menurutnya, penamaan persoalan dapat menjadi langkah awal untuk merumuskan cara menghadapinya.

Metode diorama juga memunculkan gagasan untuk mengembangkan pendekatan visual dan digital agar kisah ulama perempuan lebih mudah diakses, terutama oleh generasi muda. Dokumentasi sejarah dan pengembangan media pembelajaran dapat menjadi salah satu cara memperluas jangkauan pengetahuan tentang kepemimpinan perempuan.

Menghubungkan sejarah dengan gerakan hari ini

Pembelajaran sejarah ulama perempuan dalam PKUP Seri Pemaju memiliki kaitan dengan kebutuhan penguatan gerakan KUPI menjelang Kongres KUPI III 2027. Pengalaman para pendahulu menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan kapasitas keilmuan, keberanian, dukungan sosial, dan kemampuan membangun kerja bersama.

Pelatihan ini diikuti 25 peserta dari beragam ruang khidmah, termasuk pesantren, majelis taklim, perguruan tinggi, komunitas, dan kelompok anak muda. Keberagaman latar tersebut menjadi modal untuk mempertemukan pengalaman dan cara pandang yang berbeda dalam membaca sejarah serta merumuskan pembelajaran bagi gerakan masa kini.

Bagi peserta, sejarah bukan hanya catatan masa lalu. Ia menjadi sumber pengetahuan untuk memahami bahwa perempuan telah mengambil peran dalam kehidupan keagamaan dan sosial dalam berbagai konteks. Pengalaman itu dapat membantu membangun kepercayaan diri, memperkuat jejaring, dan mengembangkan strategi gerakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sesi sejarah ulama perempuan menjadi salah satu rangkaian pada hari pertama PKUP Seri Pemaju, yang berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 di Jakarta. Dua hari berikutnya dijadwalkan untuk melanjutkan pembelajaran mengenai substansi KUPI, kepemimpinan, dan penyusunan rencana tindak lanjut. []

Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58 a.n. Yayasan Fahmina

Terkait

PKUP Seri Pemaju Fahmina Perkuat Kepemimpinan Ulama Perempuan Menuju KUPI III 2027

Oleh: Zaenal Abidin Jakarta, 30 Oktober 2026 — Penguatan kepemimpinan ulama perempuan tidak cukup dilakukan melalui peningkatan pengetahuan keagamaan. Kepercayaan...

Populer

Artikel Lainnya