Oleh: KH. Husein Muhammad
Al-Ma’arri dikenal sebagai seorang intelektual, penyair besar yang buta, sekaligus pemikir bebas yang kerap disebut liberal, skeptis, bahkan pesimis terhadap kehidupan. Pikiran-pikirannya kritis, tajam, dan berani menantang arus utama zamannya.
Salah satu puisinya menggambarkan skeptisisme tersebut dalam memandang kehidupan:
تأملنا الزمان فما وجدنا إلى طيب الحياة به سبيلا
ذر الدنيا إذا لم تحظ منها وكن فيها كثيرا أو قليلا
Aku telah merenungkan kehidupan,
namun tak kutemukan jalan menuju kebahagiaan di dalamnya.
Tinggalkanlah dunia ini jika engkau tak menemukan kebahagiaan,
atau terimalah ia, sedikit ataupun banyak.
Bagi Al-Ma’arri, akal merupakan sumber utama pencarian kebenaran. Ia kerap melontarkan kritik tajam terhadap doktrin-doktrin keagamaan yang formalistik dan tekstual-konservatif, terutama ketika ajaran agama digunakan tanpa nalar dan justru membodohi masyarakat. Rakyat awam, menurutnya, sering dininabobokan oleh janji-janji surga sekaligus ditakut-takuti dengan ancaman neraka.
Kritiknya tidak hanya ditujukan kepada pemimpin agama. Ia juga mengkritik para penguasa negara. Menurutnya, banyak pemerintahan dipimpin oleh orang-orang yang dikuasai hasrat duniawi. Dunia kehilangan pemimpin keagamaan yang saleh, jujur, dan berpihak pada akal sehat.
Gagasan-gagasan tersebut ia tuangkan dalam syair-syair yang terkumpul dalam karyanya Ilzām Mā Lā Yulzam, yang lebih dikenal sebagai Luzūmiyyāt al-Ma’arri.
Di antara puisinya yang paling menggugah adalah:
يكفيك حزناً ذهاب الصالحين معاً
ونحن بعدهم في الأرض قطّان
ساس الأنام شياطين مسلطة
في كل مصرٍ من الوالين شيطان
يسوسون الأمور بغير عقل
فينفذ أمرهم، ويقال: ساسه
Cukuplah kesedihan bagimu karena orang-orang saleh telah pergi,
kita kini hidup bagai kapas beterbangan di atas tanah.
Manusia dipimpin oleh kekuatan-kekuatan yang menyesatkan,
di setiap negeri seolah ada penguasa tanpa nurani.
Mereka mengatur urusan tanpa akal budi,
namun keputusan mereka tetap dipaksakan,
dan itulah yang disebut sebagai “kepemimpinan”.
Keluhan Al-Ma’arri terasa begitu dekat dengan realitas zaman mana pun: ketika kebijakan publik dijalankan tanpa kebijaksanaan, ketika kekuasaan kehilangan moralitas, dan ketika akal sehat tidak lagi menjadi dasar pengambilan keputusan.
Dalam konteks ini, kata-kata Socrates terasa relevan untuk direnungkan:
قال سقراط علامة السلطان الذي يدوم ملكه أن يكون الدين والعقل حيين في قلبه ليكون في قلوب الرعية محبوباً.
Socrates berkata:
“Tanda seorang pemimpin yang kekuasaannya bertahan lama adalah ketika moralitas dan akal budi hidup di dalam hatinya, sehingga ia dicintai oleh rakyatnya.”
Pada akhirnya, refleksi Al-Ma’arri bukan sekadar keluhan pesimistis tentang dunia, melainkan peringatan moral: sebuah masyarakat akan kehilangan arah ketika orang-orang saleh menghilang dari ruang publik, dan kepemimpinan berjalan tanpa akal serta nurani.
Mungkin yang sesungguhnya hilang bukan hanya orang-orang saleh, tetapi juga keberanian untuk menjaga akal dan moralitas tetap hidup dalam kehidupan bersama.



