Oleh: Zaenal Abidin
Cirebon kembali memperlihatkan wajah keberagamannya melalui perayaan Hari Raya Duan Yang atau Twan Yang yang dirayakan umat Khonghucu di Kelenteng Talang Kota Cirebon, pada Jumat 19 Juni 2026.
Hari raya yang jatuh pada tanggal 5 bulan lima penanggalan Kongzili (Imlek) ini tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga menghadirkan kekayaan budaya yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Dalam ajaran Khonghucu, Duan Yang merupakan hari raya keagamaan yang ditandai dengan pelaksanaan sembahyang Yuè (禴), sebagai ungkapan syukur kepada Tian atau Tuhan Yang Maha Esa atas kehidupan yang telah dianugerahkan. Menurut budayawan dan rohaniwan Khonghucu Ws. Sofyan Jimmy Yosadi, SH., sembahyang Duan Yang merupakan bagian dari empat belas hari raya keagamaan Khonghucu yang memiliki landasan dalam kitab-kitab suci.
Secara astronomis, Duan Yang berkaitan dengan posisi matahari yang berada pada titik paling kuat memancarkan sinarnya. Dalam tradisi Khonghucu, persembahyangan dilakukan pada waktu tengah hari, sekitar pukul 11.00 hingga 13.00.
Di Cirebon, perayaan ini memiliki kekhasan tersendiri. Setelah melaksanakan sembahyang musim panas, sebagian umat Khonghucu melanjutkan tradisi mandi di Sumur Kuno Naga Bodas yang dibangun sejak 1415 M. Tradisi tersebut merupakan warisan budaya masyarakat Tionghoa yang meyakini air yang diambil pada tengah hari memiliki makna penyucian dan harapan akan kesehatan.
Suasana perayaan semakin meriah dengan tradisi menegakkan telur. Banyak orang, termasuk masyarakat umum, mencoba menyeimbangkan telur agar dapat berdiri tegak. Tradisi ini berkaitan dengan fenomena alam yang diyakini terjadi ketika posisi matahari berada pada titik tertentu, sekaligus menjadi simbol keseimbangan dan harapan akan keberuntungan.
Tak lengkap rasanya perayaan Duan Yang tanpa hadirnya bakcang, makanan khas Tionghoa berbahan ketan yang dibungkus daun bambu. Menariknya, di Cirebon isi bakcang telah mengalami penyesuaian dengan budaya lokal. Jika di beberapa daerah menggunakan daging babi, masyarakat Tionghoa di Cirebon banyak yang menggunakan daging ayam sehingga dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat sekitar.
Perayaan ini juga menjadi ruang perjumpaan lintas budaya. Warga dari berbagai latar belakang agama dan etnis turut hadir, beramah tamah, dan menikmati hidangan bersama. Kehangatan tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi dapat menjadi jembatan yang mempererat persaudaraan.
Keberagaman yang hidup di Cirebon menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk saling mengenal dan berbagi kebahagiaan. Duan Yang bukan sekadar perayaan keagamaan umat Khonghucu, tetapi juga menjadi bagian dari mozaik kebudayaan Cirebon yang memperkaya identitas kota ini sebagai ruang hidup yang inklusif dan penuh toleransi.
Di tengah masyarakat yang majemuk, tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa harmoni dapat tumbuh melalui penghormatan terhadap keyakinan, budaya, dan warisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. []



