Oleh: Devi Farida
“Forkolim Remaja hadir bukan hanya sebagai komunitas lintas iman, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama tentang kemanusiaan, keberagaman, dan cara hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan.”
Landasan Historis Pembentukan Forkolim Remaja
Forkolim Remaja lahir dari keresahan sekaligus harapan anak-anak muda akan pentingnya ruang perjumpaan lintas iman yang inklusif, hangat, dan setara. Komunitas ini didirikan pada tahun 2022 oleh Devi Farida bersama rekan-rekan lintas keyakinan, yaitu Riko dari Katolik, Omay dari Ahmadiyah, dan Albizar dari IPNU.
Seiring berjalannya waktu, keanggotaan Forkolim Remaja terus bertambah dan semakin beragam. Beberapa anggota yang bergabung antara lain Silviana Rohmah (IPPNU), Adrian (Advent), Gabriel (HKBP), Doni (HKBP), Vania (Katolik), Intan (IPPNU), Frans (Katolik), Lilis (IPPNU), Bila (Karang Taruna), Evi (tenaga pendidik), dan Veri Sagala (HKBP). Keberagaman latar belakang tersebut menjadi kekuatan sekaligus warna tersendiri dalam perjalanan komunitas ini.

Latar Belakang dan Tujuan
Forkolim Remaja berawal dari minimnya ruang dialog dan perjumpaan antaranak muda lintas agama di wilayah Cirebon Timur. Di sisi lain, telah hadir lebih dahulu komunitas Forkolim dewasa yang aktif membangun dialog keberagaman di tengah masyarakat. Namun, ruang tersebut masih sangat sedikit melibatkan perspektif perempuan, khususnya perempuan muda, dalam proses dialog lintas iman.
Berangkat dari kondisi tersebut, Devi dan kawan-kawan memandang bahwa perempuan memiliki pengalaman, cara pandang, serta peran penting dalam merawat toleransi dan keberagaman. Mereka percaya bahwa dialog lintas iman tidak hanya membutuhkan keberanian untuk bertemu, tetapi juga kehadiran perspektif yang lebih inklusif dan setara.
Dari semangat itulah Forkolim Remaja dibentuk sebagai ruang bersama bagi anak muda untuk saling mengenal, berdialog, belajar, dan tumbuh dalam keberagaman. Hingga saat ini, komunitas ini berkembang dengan anggota yang berasal dari berbagai agama, etnis, suku, serta latar belakang keyakinan yang beragam.
Wilayah gerak Forkolim Remaja berfokus di kawasan Cirebon Timur, khususnya Ciledug, Pabuaran, Losari, dan Babakan. Dalam perjalanannya, komunitas ini juga mendapat dukungan dan fasilitasi dari Forkolim dewasa sebagai mitra sekaligus ruang belajar bersama.
Kehadiran Forkolim Remaja menjadi bagian penting dalam memperluas ruang dialog keberagaman di kalangan anak muda serta membangun budaya toleransi yang dimulai dari perjumpaan, persahabatan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Kegiatan dan Implementasi
Sebagai komunitas lintas iman yang berfokus pada ruang perjumpaan anak muda, Forkolim Remaja tidak hanya hadir sebagai wadah dialog, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi sosial, budaya, kemanusiaan, dan advokasi sosial.

Salah satu fokus utama komunitas ini adalah membuka ruang perjumpaan yang hangat dan inklusif bagi anak muda lintas iman di Cirebon Timur. Hal tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan kolaboratif, seperti Cai di Raga, sebuah ruang kebersamaan yang mempertemukan anak muda dalam aktivitas sosial dan budaya. Selain itu, terdapat Panggung Perempuan, ruang ekspresi dan refleksi yang menghadirkan suara serta perspektif perempuan dalam isu keberagaman, toleransi, dan kemanusiaan.
Forkolim Remaja juga aktif mengadakan diskusi bersama berbagai komunitas lintas iman sebagai upaya membangun budaya dialog, memperkuat rasa saling mengenal, dan menumbuhkan sikap toleransi di kalangan generasi muda.
Pada momentum Ramadan, komunitas ini menghadirkan kegiatan Talk Zil, yaitu forum diskusi santai bersama tokoh-tokoh keberagaman untuk membicarakan berbagai isu sosial, keberagaman, dan kehidupan masyarakat secara lebih dekat dan membumi.
Dalam bidang pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat, Forkolim Remaja pernah mengadakan Workshop Gerabah bersama para pengrajin di Pamosongan, Ciledug. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama antara anak muda dan masyarakat lokal sekaligus upaya mengenalkan nilai budaya serta potensi ekonomi kreatif daerah kepada generasi muda.
Tidak hanya bergerak dalam ruang dialog, Forkolim Remaja juga aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan melalui program tahunan Nyapu Jagat. Program ini berfokus pada pendampingan lansia dan penyandang disabilitas agar memperoleh akses kesehatan, bantuan sosial, serta pelayanan administrasi dari pemerintah setempat.
Berangkat dari keberagaman latar belakang anggotanya, Forkolim Remaja juga mengembangkan program Home Care sebagai bentuk pelayanan sosial berbasis komunitas. Program ini didukung oleh anggota yang memiliki latar belakang tenaga kesehatan, seperti bidan, perawat, dan tenaga administrasi kesehatan. Melalui program tersebut, masyarakat memperoleh pendampingan kesehatan, konsultasi dasar, hingga akses terhadap layanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau.
Selain itu, Forkolim Remaja turut mengambil peran dalam kerja-kerja advokasi sosial dan keberagaman. Komunitas ini terlibat dalam pendampingan proses perizinan rumah ibadah sebagai bentuk dukungan terhadap hak kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi setiap warga negara. Pendampingan dilakukan melalui pendekatan dialog, membangun komunikasi antarwarga, serta menciptakan ruang damai di tengah keberagaman.
Forkolim Remaja juga melakukan pendampingan terhadap kelompok-kelompok termarjinalkan yang sering mengalami keterbatasan akses sosial, diskriminasi, maupun kurangnya ruang aman dalam kehidupan bermasyarakat.
Seluruh kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa keberagaman bukan hanya tentang perbedaan identitas, melainkan tentang bagaimana anak muda dapat saling merawat, bekerja sama, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas melalui nilai kemanusiaan, solidaritas, dan perdamaian sosial.

Pengalaman Konflik
Dalam perjalanan membangun ruang dialog lintas iman di kalangan anak muda, Forkolim Remaja tentu tidak selalu berjalan mudah. Kehadiran komunitas yang mempertemukan berbagai latar belakang agama, keyakinan, suku, dan pandangan sosial sering kali menghadapi tantangan dan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Pada masa awal pembentukannya, Forkolim Remaja pernah mendapatkan stigma dan penolakan dari sebagian kelompok masyarakat yang belum memahami tujuan komunitas ini. Kegiatan lintas iman kerap dipandang negatif dan dianggap mencampuradukkan ajaran agama.
Selain tantangan eksternal, dinamika internal juga menjadi bagian dari proses pembelajaran komunitas. Perbedaan cara pandang, latar belakang budaya, hingga pengalaman keagamaan antaranggota pernah memunculkan kesalahpahaman dalam diskusi maupun pengambilan keputusan. Namun, berbagai konflik tersebut diselesaikan melalui dialog, ruang mendengar, dan membangun rasa saling percaya.
Pengalaman konflik justru memperkuat solidaritas antaranggota. Forkolim Remaja menyadari bahwa keberagaman bukan berarti tidak adanya perbedaan atau konflik, melainkan bagaimana setiap individu mampu belajar untuk saling memahami, menghargai, dan mencari titik temu di tengah perbedaan.
Tantangan dan Hambatan
Sebagai komunitas lintas iman anak muda, Forkolim Remaja menghadapi berbagai tantangan, baik secara internal maupun eksternal.
Salah satu tantangan terbesar adalah masih adanya stigma dan prasangka terhadap kegiatan lintas iman. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap perjumpaan lintas agama sebagai sesuatu yang sensitif dan berpotensi memengaruhi keyakinan seseorang. Kondisi ini membuat komunitas harus bekerja lebih keras untuk membangun kepercayaan masyarakat.
Selain itu, minimnya ruang aman bagi anak muda untuk berdialog mengenai isu keberagaman juga menjadi hambatan tersendiri. Banyak anak muda yang sebenarnya memiliki semangat untuk belajar dan bertemu dengan teman dari latar belakang berbeda, tetapi masih merasa takut terhadap penilaian lingkungan sosialnya.
Dalam pelaksanaannya, Forkolim Remaja juga menghadapi keterbatasan sumber daya, baik dari segi pendanaan, fasilitas, maupun dukungan operasional kegiatan. Sebagian besar kegiatan dijalankan secara mandiri dan gotong royong oleh anggota komunitas.
Meski demikian, berbagai tantangan tersebut tidak menyurutkan semangat anggota untuk terus menghadirkan ruang dialog dan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.
Keberlanjutan dan Replikasi
Model gerakan dan pendekatan yang dilakukan Forkolim Remaja sangat memungkinkan untuk diterapkan di berbagai daerah lain yang memiliki keberagaman agama, budaya, dan komunitas anak muda yang membutuhkan ruang dialog yang aman dan inklusif.
Replikasi komunitas seperti Forkolim Remaja dapat dimulai dari pembentukan komunitas kecil yang berangkat dari pertemanan dan rasa saling percaya antar anak muda lintas latar belakang. Dari ruang kecil tersebut, dialog dapat dibangun melalui diskusi santai, kegiatan sosial, kolaborasi budaya, aksi kemanusiaan, maupun ruang berbagi pengalaman.
Dalam proses perkembangannya, Forkolim Remaja mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya Fahmina Institute yang memberikan pendampingan, penguatan perspektif keberagaman, serta dukungan dalam pengembangan kapasitas anak muda lintas iman.
Kolaborasi antara komunitas anak muda, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lembaga pendamping menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan ini sekaligus membuka peluang lahirnya komunitas serupa di berbagai daerah.

Nilai dan Pesan
Forkolim Remaja hadir bukan hanya sebagai komunitas lintas iman, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama tentang kemanusiaan, keberagaman, dan cara hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan.
Nilai utama yang dipegang adalah kemanusiaan, toleransi, kesetaraan, gotong royong, dan dialog. Seluruh kegiatan yang dilakukan berangkat dari semangat menciptakan ruang yang aman, inklusif, dan penuh penghargaan terhadap setiap individu tanpa memandang identitas maupun keyakinannya.
Forkolim Remaja juga membawa pesan bahwa anak muda memiliki peran penting dalam merawat keberagaman dan perdamaian sosial. Perdamaian dibangun melalui perjumpaan, percakapan, kepedulian sosial, serta keberanian untuk membuka diri terhadap perbedaan.
Melalui berbagai kegiatan sosial, advokasi, dan pendampingan masyarakat, Forkolim Remaja menunjukkan bahwa toleransi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling mengenal, memahami, dan bekerja sama demi kehidupan yang lebih damai dan inklusif. []



