Lembaga:

Dukung kami dengan donasi melalui Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58 a.n. Yayasan Fahmina

Rahmah Tanpa Batas: Perspektif Kenabian tentang Martabat Difabel

Melalui kisah Abdullah bin Ummi Maktum, Nabi Ayyub, dan Nabi Musa, diskusi Ramadan Inklusi menegaskan bahwa keterbatasan fisik tidak mengurangi kemuliaan manusia.

Oleh: Zaenal Abidin

“Dalam perspektif para nabi, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kondisi fisiknya, tetapi oleh ketakwaan dan amal salehnya.”

Isu inklusi terhadap difabel semakin mendapatkan perhatian dalam berbagai ruang diskusi keagamaan dan sosial. Selama ini, difabel kerap diposisikan sebagai objek belas kasihan, terutama pada momen-momen religius seperti bulan Ramadan. Padahal, dalam perspektif Islam yang lebih mendalam, penghormatan terhadap manusia tidak ditentukan oleh kondisi fisik, melainkan oleh ketakwaan dan amal saleh.

Hal ini menjadi pokok bahasan dalam Ramadan Inklusi Seri 2 yang mengangkat tema “Rahmah Tanpa Batas: Perspektif Para Nabi dalam Memandang dan Memperlakukan Difabel”. Diskusi yang berlangsung secara daring pada Kamis, 5 Maret 2025 ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Asep Jahidin, dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial sekaligus Kepala Pusat Layanan Disabilitas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta Presti Setiawati dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia Yogyakarta. Diskusi dipandu oleh Erin Gayatri, Direktur Center for GEDSI UNU Yogyakarta.

Forum ini menjadi ruang refleksi tentang bagaimana nilai-nilai kenabian dapat menjadi dasar membangun masyarakat yang inklusif dan adil bagi difabel.

Dalam pemaparannya, Dr. Asep Jahidin menegaskan bahwa perspektif kenabian menempatkan semua manusia dalam posisi yang setara. Ia menyoroti bahwa dalam realitas sosial, difabel sering dipandang sebagai objek amal atau bahkan dianggap sebagai akibat dosa atau kutukan. Pandangan seperti ini tidak sejalan dengan ajaran Islam.

Menurutnya, dalam Al-Qur’an, kemuliaan manusia tidak diukur dari kesempurnaan fisik, melainkan dari ketakwaan. Prinsip ini ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia yang paling mulia adalah yang paling bertakwa, bukan yang paling elok rupa atau paling lengkap anggota tubuhnya.

Dr. Asep juga mengangkat kisah Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat Nabi yang tunanetra. Dalam sebuah peristiwa yang diabadikan dalam Surah Abasa, Nabi Muhammad pernah ditegur oleh Allah ketika beliau bermuka masam saat Abdullah datang di tengah pertemuan dengan para pembesar Quraisy. Teguran ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga martabat setiap manusia, termasuk difabel. Bahkan kemudian Abdullah bin Ummi Maktum diangkat menjadi muazin dan pernah dipercaya memimpin Madinah saat Nabi pergi berperang.

Selain itu, ia juga menyinggung kisah Nabi Ayyub yang mengalami penderitaan fisik berat dalam waktu lama. Kisah ini menunjukkan bahwa penderitaan fisik tidak mengurangi kemuliaan seseorang di hadapan Tuhan. Demikian pula Nabi Musa yang disebut memiliki kesulitan dalam berbicara, namun tetap menjadi nabi dan pemimpin umat.

Melalui berbagai kisah tersebut, Dr. Asep menegaskan bahwa paradigma kenabian tidak melihat difabel sebagai objek belas kasihan, tetapi sebagai subjek yang memiliki hak, martabat, dan potensi yang sama.

Sementara itu, Presti Setiawati berbagi pengalaman personal sebagai seorang tunanetra. Ia menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi difabel seringkali bukan berasal dari kondisi tubuh mereka, melainkan dari lingkungan dan cara pandang masyarakat.

Presti mencontohkan bagaimana akses terhadap literasi keagamaan bagi difabel masih terbatas. Untuk membaca Al-Qur’an, tunanetra menggunakan mushaf braille yang memiliki format khusus dengan enam titik yang diraba menggunakan jari. Namun mushaf braille memiliki ukuran yang jauh lebih besar sehingga satu juz tidak dapat disatukan dalam satu buku kecil seperti mushaf biasa.

Selain itu, ia juga menjelaskan bagaimana teknologi seperti audio book, pembaca layar, dan aplikasi digital kini membantu difabel mengakses ilmu keislaman. Dengan berbagai metode tersebut, difabel tetap dapat belajar membaca Al-Qur’an, memahami kitab-kitab keislaman, hingga mempelajari ilmu fikih.

Presti juga menyoroti persoalan aksesibilitas dalam praktik ibadah, seperti tempat wudhu yang tidak ramah difabel atau kesulitan menentukan arah kiblat di masjid. Pengalaman-pengalaman ini menunjukkan pentingnya kesadaran bersama untuk membangun ruang ibadah yang inklusif.

Diskusi ini memperlihatkan adanya pergeseran paradigma penting dalam melihat difabel. Jika selama ini pendekatan yang dominan adalah charity approach atau pendekatan belas kasihan, maka perspektif kenabian justru menekankan pendekatan hak dan keadilan.

Dalam pendekatan charity, difabel dipandang sebagai objek penerima bantuan. Sedangkan dalam pendekatan berbasis hak, difabel dipahami sebagai subjek yang memiliki martabat, hak sosial, serta kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Nilai-nilai kenabian dalam Islam sebenarnya sudah memberikan fondasi kuat bagi paradigma ini. Kisah-kisah para nabi menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjadi pemimpin, ulama, atau bahkan nabi.

Oleh karena itu, tantangan utama bukan terletak pada kondisi difabel, tetapi pada perubahan cara pandang masyarakat. Inklusivitas tidak hanya diwujudkan melalui fasilitas fisik seperti ramp atau lift, tetapi juga melalui perubahan perspektif yang menghormati martabat manusia.

Ramadan Inklusi Seri 2 menegaskan bahwa ajaran Islam melalui perspektif para nabi membawa pesan kemanusiaan yang sangat inklusif. Kemuliaan manusia tidak diukur dari kondisi fisik, melainkan dari ketakwaan, amal saleh, dan integritas moral.

Karena itu, difabel tidak seharusnya dipandang sebagai objek belas kasihan, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan spiritual.

Dengan meneladani paradigma kenabian, masyarakat diharapkan mampu membangun ruang yang lebih adil dan inklusif di mana setiap manusia dihargai martabatnya tanpa memandang perbedaan kondisi fisik. Dalam kerangka inilah, rahmah atau kasih sayang Islam benar-benar menjadi rahmah tanpa batas bagi seluruh umat manusia.

Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58 a.n. Yayasan Fahmina

Terkait

Madrasah Creator KUPI Gelar ToT di Yogyakarta, Perkuat Gerakan Menulis Profil Ulama Perempuan

Oleh: Zaenal Abidin “Gerakan ini menargetkan 10.000 catatan kerja dan profil keulamaan perempuan sebagai bagian dari Road to KUPI ke-3...

Populer

Artikel Lainnya