Oleh: Zaenal Abidin
“Gerakan perlu membangun hubungan yang saling menguatkan, bukan sekadar mengumpulkan individu dengan latar belakang yang sama.” — Tati Krisnawaty
Jakarta– Pelatihan Kepemimpinan Ulama Perempuan Seri Pemaju yang diselenggarakan Yayasan Fahmina pada 30 Oktober–1 November 2026 tidak sekadar menjadi ruang belajar bersama. Pertemuan ini juga menjadi kesempatan bagi para peserta untuk melihat kembali posisi, pengalaman, dan kontribusi mereka dalam gerakan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).
Peserta datang dari latar belakang dan wilayah yang beragam. Ada yang telah lama terlibat dalam kegiatan KUPI, ada yang pernah mengikuti kongres atau halaqah, dan ada pula yang masih mencari cara untuk mengambil peran lebih besar dalam gerakan. Keragaman pengalaman tersebut menjadi modal untuk saling belajar dan menguatkan.
Ketua Yayasan Fahmina, Kiai Marzuki Rais, mengingatkan bahwa ulama perempuan tidak semestinya dipahami sebatas sebutan bagi individu perempuan yang memiliki pengetahuan agama. KUPI, menurutnya, merupakan gerakan kolektif yang melibatkan individu dan lembaga untuk menjalankan misi keagamaan dan kemanusiaan.
“Dalam perspektif KUPI, ulama merupakan orang yang berilmu mendalam, memiliki rasa takut kepada Allah, berkepribadian mulia, dan rahmatan lil ‘alamin,” jelasnya dalam sambutan pembukaan, pada Jumat (30/10/2026).
Ia juga mengajak peserta untuk tidak merasa minder karena selama ini otoritas keulamaan lebih sering dilekatkan kepada laki-laki. Kepemimpinan ulama perempuan, menurutnya, bukan gerakan untuk mempertentangkan perempuan dan laki-laki, melainkan untuk membangun kerja bersama demi menghadirkan kehidupan yang lebih adil.
“Jadi tidak usah merasa minder lagi sekarang,” ujarnya, seraya mengingatkan bahwa perjuangan ulama perempuan perlu berjalan beriringan dengan berbagai pihak.
Mengenali posisi, memperkuat gerakan
Dalam pengantar pelatihan, fasilitator Roziqoh menjelaskan bahwa Seri Pemaju merupakan ruang bagi mereka yang telah memiliki pengalaman dan pemahaman tentang KUPI untuk memperdalam perspektif serta mengambil peran strategis dalam pengembangan gerakan.
Menurutnya, keterlibatan seseorang dalam kegiatan KUPI tidak selalu berarti ia telah memahami gerakan tersebut secara menyeluruh. Ada orang yang sudah sering mengikuti kegiatan, tetapi masih belum percaya diri untuk berkontribusi. Ada pula yang telah melakukan kerja-kerja sejalan dengan nilai KUPI, tetapi belum sepenuhnya mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari gerakan.
Karena itu, pelatihan dirancang bukan sekadar untuk menambahkan pengetahuan baru, melainkan untuk memperkuat pemahaman dan menghubungkan pengalaman peserta dengan arah gerakan.
Lima gagasan untuk merawat gerakan
Salah satu sesi awal mengajak peserta menyampaikan harapan melalui kreasi simbolik. Benda-benda sederhana dirangkai menjadi gambaran tentang perjalanan dan tantangan gerakan KUPI.
Dari diskusi kelompok, muncul lima gagasan penting: metamorfosis gerakan, infrastruktur gerakan, perjuangan kelas, pengasahan perspektif, dan kemitraan pengetahuan atau epistemic partnership.
Metamorfosis gerakan menggambarkan proses perubahan yang terus berlangsung. Gerakan membutuhkan akar yang kuat, tetapi juga harus mampu bertumbuh, beradaptasi, dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Sementara itu, gagasan infrastruktur gerakan menekankan pentingnya sistem, fondasi, dan hubungan antarelemen agar perjuangan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Kelompok lain mengangkat persoalan kelompok rentan, ketimpangan sosial, dan hambatan patriarki. Peserta melihat bahwa persoalan sosial tidak dapat dibaca secara terpisah, melainkan perlu dianalisis dengan perspektif yang mempertimbangkan relasi kuasa dan pengalaman kelompok yang selama ini terpinggirkan.
Fasilitator Tati Krisnawaty menilai lima gagasan tersebut dapat menjadi pijakan untuk melanjutkan pembicaraan tentang arah gerakan.
“Paling tidak, dari pengenalan tadi, lima kata kunci sudah diutarakan. Kalau sudah menemukan kata kunci, itu memudahkan kita untuk berlanjut,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa gerakan perlu membangun hubungan yang saling menguatkan, bukan sekadar mengumpulkan individu dengan latar belakang yang sama. Perspektif perlu terus diasah, sementara kemitraan pengetahuan harus dikembangkan agar kerja gerakan tidak berlangsung secara individual.
Dari ruang belajar menuju ruang pengabdian
KUPI memiliki ruang pengabdian yang luas, mulai dari pesantren, majelis taklim, perguruan tinggi, komunitas, hingga ruang-ruang advokasi. Tantangan yang dihadapi di setiap tempat tidak selalu sama. Karena itu, peserta didorong untuk membaca persoalan di lingkungan masing-masing dan mengembangkan cara kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Penguatan kepemimpinan juga berarti membangun keyakinan bahwa pengalaman yang telah dijalani peserta memiliki arti bagi gerakan. Kerja-kerja di tingkat lokal dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas apabila terhubung dengan perspektif, nilai, dan jejaring bersama.
Melalui Seri Pemaju, Yayasan Fahmina berupaya memperkuat kapasitas para penggerak agar tidak berhenti sebagai peserta kegiatan. Mereka diharapkan mampu mengembangkan inisiatif, memperluas kolaborasi, dan membawa nilai-nilai KUPI ke ruang pengabdian masing-masing.
Pada akhirnya, kepemimpinan ulama perempuan tidak hanya diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki atau forum yang diikuti, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan kemaslahatan, memperjuangkan keadilan, dan membangun relasi yang lebih setara dalam kehidupan masyarakat. []



