Oleh: Marzuki Rais
“Perdamaian tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk memahami, menghormati, dan hidup berdampingan dalam perbedaan.”
Perbedaan agama dan keyakinan masih sering dipandang sebagai ancaman. Tidak sedikit orang yang menggunakan agama untuk membenarkan diskriminasi, bahkan kekerasan terhadap mereka yang berbeda. Bahkan untuk beribadah pun, kadang dilarang. Padahal, keberagaman adalah fitrah kemanusiaan sekaligus kehendak Tuhan yang tidak mungkin dihapuskan.
M. Quraish Shihab mengingatkan bahwa toleransi bukan berarti menganggap semua agama sama benarnya. Toleransi adalah mengakui keberadaan orang lain, menghormati hak mereka untuk meyakini apa yang diyakininya, serta hidup berdampingan secara damai tanpa melahirkan ketidakadilan. Dalam Islam, inilah makna tasāmuh: menghormati perbedaan tanpa kehilangan keyakinan.
Semangat itulah yang terus ditanamkan Yayasan Fahmina melalui Sekolah Agama dan Kepercayaan (SAK). Pada 4 Juli 2026, SAK Angkatan III memulai pertemuan pertamanya di Pura Jati Pramana, Kabupaten Cirebon, yang diikuti 30 pemuda lintas iman. Mereka tidak datang untuk memperdebatkan agama atau mencari siapa yang paling benar, tetapi untuk saling mengenal, memahami, dan menghormati keyakinan satu sama lain.
Pertemuan di Pura Jati Pramana ini merupakan awal dari rangkaian tujuh pertemuan yang akan berlangsung di rumah-rumah ibadah Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Konghucu, Hindu, dan komunitas penghayat kepercayaan. Di setiap pertemuan, peserta belajar langsung dari para pemeluknya tentang sejarah, ajaran pokok, ritual, ekoteologi dan perkembangan masing-masing agama maupun kepercayaan.
Pengalaman seperti ini diharapkan mampu mengikis prasangka, meluruskan kesalahpahaman, dan menumbuhkan rasa saling percaya. Sebab, perdamaian tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk memahami dan menghormati perbedaan.
Di tengah menguatnya polarisasi dan ujaran kebencian, ruang-ruang belajar seperti ini menjadi semakin penting. Toleransi tidak cukup diajarkan sebagai konsep, tetapi harus dihadirkan sebagai pengalaman hidup. Dari sanalah lahir generasi yang mampu merawat keberagaman, menjaga kerukunan, dan membangun Indonesia yang damai, adil, dan bermartabat. []



