Pengetahuan bukan sekadar informasi. Ia adalah pintu masuk bagi perubahan cara pandang, sikap, dan tindakan kita sebagai manusia. Dalam konteks disabilitas, pengetahuan sering kali menjadi “pemutus arus” dari stigma yang telah lama mengakar stigma yang tidak selalu lahir dari kebencian, tetapi dari ketidaktahuan, kecanggungan, dan jarak sosial yang tak pernah dijembatani.
Blakasuta Volume 55 hadir untuk mengajak pembaca menelusuri bagaimana pengetahuan bekerja: dari menghadirkan kesadaran, menggeser persepsi, hingga menumbuhkan empati yang berangkat dari penghormatan terhadap martabat manusia. Dari yang semula tidak terlihat menjadi terlihat, dari rasa kasihan menjadi tanggung jawab, dari simpati yang merendahkan menjadi empati yang memanusiakan.
Namun, edisi ini juga mengingatkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup. Perubahan sejati menuntut lebih dari sekadar tahu—ia membutuhkan keberanian untuk merombak bias tersembunyi, membuka ruang perjumpaan, dan membangun ekosistem sosial yang inklusif. Di sinilah pengalaman hidup penyandang disabilitas menjadi pusat, bukan pelengkap. Mereka bukan objek yang dibicarakan, tetapi subjek yang menentukan arah pengetahuan itu sendiri.
Melalui tawaran pemikiran seperti *Fiqh al-Murunah*, edisi ini menghadirkan perspektif keagamaan yang lebih adil dan membebaskan. Sebuah pendekatan yang tidak hanya memberi “keringanan”, tetapi merumuskan ulang keadilan berdasarkan keragaman kondisi manusia. Fiqh tidak lagi berdiri jauh dari realitas, melainkan tumbuh dari pengalaman hidup, membuka ruang partisipasi, serta mendorong tanggung jawab kolektif untuk menciptakan sistem yang memberdayakan.
Blakasuta Volume ini juga menegaskan pentingnya paradigma yang mendengar—sebagaimana diusung oleh gerakan ulama perempuan—bahwa pengetahuan harus lahir dari dialog, bukan dominasi. Dari mendengar, bukan sekadar menjelaskan. Dari bersama, bukan untuk semata.
Akhirnya, kami mengajak pembaca untuk tidak berhenti pada “memahami”, tetapi melangkah menuju “berpihak”. Karena pengetahuan yang sejati bukan hanya mengubah pikiran, tetapi juga menggerakkan hati dan tindakan.
Selamat membaca.
Redaksi



