Oleh: Zaenal Abidin
“Gerakan ini menargetkan 10.000 catatan kerja dan profil keulamaan perempuan sebagai bagian dari Road to KUPI ke-3 tahun 2027.”
Madrasah Creator KUPI menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) bertajuk “Refleksi, Evaluasi, dan Perencanaan Gerakan Menulis Profil Jejaring Ulama Perempuan” pada 24–26 April 2026 di Griya GUSDURian, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menguatkan gerakan dokumentasi dan penulisan profil ulama perempuan yang selama ini kerap terpinggirkan dari narasi sejarah arus utama.
Sebanyak 30 penggerak dari berbagai jejaring, seperti Alimat, AMAN Indonesia, Jaringan GUSDURian, Perkumpulan Rahima, Yayasan Fahmina, Mubadalah, dan Kupipedia, terlibat dalam forum ini. Selama tiga hari, peserta melakukan refleksi mendalam atas proses penulisan yang telah berjalan, sekaligus mengevaluasi berbagai kendala teknis, metodologis, hingga distribusi konten yang dihadapi di lapangan.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa kontribusi ulama perempuan dalam sejarah Islam di Indonesia sangat signifikan, namun belum banyak terdokumentasikan secara sistematis. Dominasi literatur yang bias patriarki membuat narasi otoritas keagamaan perempuan sering kali terpinggirkan. Madrasah Creator KUPI hadir sebagai inisiatif strategis untuk mendokumentasikan pemikiran, kiprah, dan teladan ulama perempuan sebagai fondasi pengetahuan bagi generasi mendatang.
Sekretaris Majelis Musyawarah KUPI, Nyai Hj. Masruchah, dalam salah satu sesi menegaskan bahwa ulama perempuan tidak semata diukur dari kefasihan dalam teks keagamaan, tetapi juga dari keterlibatannya dalam upaya perubahan sosial. “Ulama perempuan hadir di komunitas, pesantren, kaum muda, keluarga, hingga ruang publik. Mereka bergerak dalam perubahan sosial yang nyata,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan perjalanan KUPI sejak pertama kali digagas pada 2017 oleh Fahmina, Alimat, dan Rahima, yang kemudian berkembang bersama jaringan GUSDURian dan AMAN Indonesia. Pada masa awal, masih terdapat keraguan dan ketakutan untuk mengidentifikasi diri sebagai ulama perempuan, bahkan di kalangan yang memiliki perspektif keagamaan yang kuat.
“Namun seiring waktu, terutama ketika ruang publik dan politik mulai mengakui keberadaan mereka, kepercayaan diri itu tumbuh. Pada KUPI 2022, ulama perempuan sudah berbicara dalam konteks peradaban, baik nasional maupun global,” jelasnya.
Menurut Masruchah, pengakuan terhadap ulama perempuan kini semakin luas, terlihat dari keterlibatan berbagai negara dan dukungan dari masyarakat sipil hingga pemerintah. Meski demikian, tantangan ke depan tetap besar, terutama dalam memastikan ruang bagi ulama perempuan tetap terbuka di tengah dinamika sosial dan politik yang terus berubah.

Melalui forum ToT ini, para peserta tidak hanya melakukan evaluasi, tetapi juga menyusun rencana strategis gerakan menulis ke depan. Beberapa output yang dihasilkan antara lain dokumen evaluasi dan pembelajaran (lesson learned), draf rencana aksi penulisan profil ulama perempuan untuk tahun 2026, serta panduan ringkas pendampingan bagi para penggerak di berbagai daerah.
Sebagai bagian dari rangkaian Road to KUPI ke-3, gerakan ini menargetkan lahirnya sedikitnya 10.000 catatan kerja dan profil keulamaan perempuan. Gerakan menulis profil jejaring KUPI dirancang berlangsung selama dua tahun, mulai 2026 hingga menjelang Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) ke-3 pada 2027. Target ini dimaksudkan untuk memperkaya dokumentasi dan memperkuat pengakuan terhadap otoritas ulama perempuan dalam berbagai ruang kehidupan.

Lebih jauh, kegiatan ini juga mendorong para penulis untuk menggali sosok ulama perempuan secara lebih utuh meliputi dimensi intelektual, kultural, dan spiritual. Pendekatan ini penting untuk menghadirkan narasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga reflektif dan transformatif dalam membaca peran ulama perempuan di tingkat keluarga, masyarakat, negara, hingga gerakan global.
“Siapa lagi yang akan memunculkan sosok ulama perempuan kalau bukan kita sendiri?” tukas Masruchah.



