Oleh: Tho’ah Ja’far
“Kasihan negeri ini! Yang sehabis Musim Timur (kemarau), mengering dan mati karena kekeringan, dan sehabis Musim Barat, tenggelam karena banjir…”
Nama Raden Ajeng (R.A.) Kartini kerap dipahami sebagai lambang emansipasi perempuan. Surat-suratnya sering dikutip untuk membahas pendidikan, kebebasan, dan martabat perempuan Jawa. Namun, ada sisi lain yang jarang dibahas, yakni kepekaannya terhadap alam.
Lebih dari seabad lalu, Kartini telah mencatat gejala kerusakan lingkungan yang kini kian terasa, seperti banjir berulang, tanah kehilangan daya serap, dan musim yang tidak menentu. Bagi Kartini, merawat bumi bukan urusan keindahan semata. Hal ini menyangkut kesadaran, nalar, serta tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan.
Kartini hidup di Jepara saat hutan jati di lereng Muria ditebang besar-besaran untuk kepentingan industri kolonial. Kayu diturunkan dari bukit hingga merusak tanaman warga di bawahnya. Tanah menjadi gundul dan air tidak lagi tersimpan. Sungai meluap saat hujan, lalu mengering ketika kemarau. Dalam surat-suratnya, Kartini mencatat penderitaan petani yang gagal panen akibat kekeringan, lalu kembali terdampak banjir pada musim berikutnya.
Dalam satu suratnya, Kartini menulis:
“Kasihan negeri ini! Yang sehabis Musim Timur (kemarau), mengering dan mati karena kekeringan, dan sehabis Musim Barat, tenggelam karena banjir… Banyak sawah di seluruh negeri telah hancur oleh kekeringan besar… di kota tetangga Grobogan, dua puluh enam ribu sawah telah hancur.” (R.A. Kartini, dalam surat kepada Ny. Abendanon, dalam J.H. Abendanon (ed.), Door Duisternis tot Licht, 1911, terj. Agnes Louise Symmers, Letters of a Javanese Princess, 1920).
Kartini tidak membaca peristiwa ini dari buku, tetapi menyaksikan langsung. Ayahnya kerap mengajaknya mengunjungi desa-desa saat krisis terjadi. Dari situ tumbuh empati yang kuat. Kritik terhadap sistem kolonial tidak selalu disampaikan secara terbuka, tetapi arahnya jelas. Ketika alam rusak, rakyat kecil menanggung akibatnya.
Di tengah tekanan pingitan, Kartini menemukan ruang lain di alam. Ia menulis tentang laut yang biru, angin di pantai, dan langit senja yang luas. Dalam salah lembar suratnya yang lain, ia menulis:
“Kalau kita mencari ketenangan di alam, maka ketenanganlah yang akan kita dapat.” (R.A. Kartini, surat 21 Januari 1901, dalam J.H. Abendanon (ed.), Door Duisternis tot Licht, 1911, terj. Agnes Louise Symmers, Letters of a Javanese Princess, 1920).
Kalimat ini menunjukkan pandangan jernih Kartini. Alam bukan benda mati yang dapat diperlakukan sesuka hati. Alam adalah ruang hidup yang memberi makna. Kartini duduk di batu karang, memandang cakrawala, dan menemukan kebebasan yang tidak ia peroleh dalam ruang sosialnya. Dari pengalaman tersebut tumbuh kedekatan emosional yang mendorong keinginan untuk menjaga.
Pandangan Kartini tentang alam tidak berhenti pada perasaan. Ia sampai pada cara pandang yang utuh. Alam dipahami sebagai satu kesatuan. Manusia menjadi bagian dari keseluruhan itu, bukan penguasa tunggal. Ia menyebut tanah Jawa sebagai karunia suci yang harus dirawat. Dalam bahasa iman, hal ini sejalan dengan firman Allah Swt:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Merusak alam berarti melanggar keseimbangan yang telah ditetapkan. Kartini melihat hal tersebut, meski tidak menggunakan istilah fikih lingkungan seperti sekarang. Ia memahami bahwa keserakahan manusia akan berujung pada penderitaan bersama. Ungkapan “Habis gelap terbitlah terang” tidak hanya berbicara tentang harapan sosial, tetapi juga ajakan keluar dari kebodohan, termasuk dalam memperlakukan alam.
Gagasan Kartini beririsan dengan konsep yang kini dikenal sebagai ekofeminisme. Ia melihat kesamaan nasib antara perempuan dan alam. Perempuan dipingit, alam dieksploitasi. Keduanya diperlakukan sebagai objek. Kartini tidak menyebut istilah tersebut, tetapi arah pemikirannya jelas. Ia menempatkan perempuan sebagai penjaga kehidupan. Seorang ibu mendidik anak, mengelola rumah, serta menentukan penggunaan sumber daya. Dari tangan perempuan, nilai-nilai ditanamkan. Ketika kesadaran lingkungan tumbuh, keluarga akan ikut bergerak. Dari keluarga, perubahan meluas ke masyarakat. Dalam tradisi Jawa, bumi sering disebut “Ibu Bumi”. Kartini menghidupkan makna tersebut dalam cara berpikirnya.
Gagasan tersebut tidak berhenti pada konsep. Kartini juga memberi perhatian pada hal konkret. Ia membahas kebersihan rumah, pentingnya sanitasi, serta pengelolaan sumber daya secara hemat. Dalam sekolah yang ia rintis, ia memasukkan pelajaran higiene dan tata kelola rumah tangga. Ia mengkritik kebiasaan membuang limbah ke sungai. Baginya, rumah yang bersih mencerminkan akhlak. Ia juga mempraktikkan penggunaan bahan alami, memanfaatkan sumber di sekitar, dan menghindari pemborosan. Pola hidup seperti ini kini dikenal sebagai berkelanjutan. Kartini telah memulainya dari lingkungan terdekat.
Gagasan tersebut tetap relevan hingga kini. Banyak gerakan perempuan menjaga sumber air, menanam kembali lahan, dan mengelola sampah dari rumah. Gerakan ini berjalan tanpa banyak sorotan, tetapi dampaknya nyata. Di berbagai tempat, perempuan menjadi penopang ketahanan pangan keluarga. Mereka dekat dengan tanah, air, dan siklus kehidupan. Hal ini bukan kebetulan, melainkan kelanjutan dari kesadaran yang telah tumbuh sejak masa Kartini. Sementara itu, pembangunan yang mengabaikan lingkungan terus berlangsung. Hutan ditebang, tambang dibuka, dan tanah kehilangan daya hidup. Kesalahan lama terulang dalam bentuk baru.
Merawat bumi ala Kartini bukan sekadar “omon-omon”. Ini adalah cara memandang hidup. Alam bukan hanya sumber daya, tetapi bagian dari kehidupan manusia. Ada hubungan yang harus dijaga dan tanggung jawab yang tidak bisa ditunda. Jika hubungan tersebut rusak, manusia ikut terdampak.
Masa depan tidak ditentukan oleh teknologi semata, melainkan oleh kesediaan manusia untuk belajar kembali, melihat, memahami, dan menghormati. Kartini telah menunjukkan arah. Tinggal pilih, meneladani atau abai tanpa nurani?
Wallahu a’lam bis-shawab.[]



