Puluhan orang muda dari berbagai agama belajar langsung tentang Hindu di Pura Agung Jati Pramana sebagai langkah membangun pemahaman, mengikis prasangka, dan merawat kerukunan.
Pagi itu suasana Pura Agung Jati Pramana di Kota Cirebon terasa berbeda. Bukan hanya umat Hindu yang hadir, tetapi puluhan orang muda dari beragam latar belakang agama dan daerah duduk bersama dalam satu lingkaran. Mereka datang bukan untuk memperdebatkan keyakinan, melainkan untuk belajar mengenal satu sama lain.
Momen tersebut menandai dimulainya Sekolah Agama dan Kepercayaan (SAK) Angkatan III yang diselenggarakan Yayasan Fahmina bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Mengusung tema “Temukan Diri, Pahami yang Lain”, program ini kembali mengajak generasi muda belajar langsung dari pemeluk agama dan kepercayaan, dimulai dari agama Hindu di Pura Agung Jati Pramana pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Menurut Ketua Yayasan Fahmina, Marzuki Rais, keberagaman tidak akan menjadi kekuatan apabila hanya dipahami dari kejauhan. Banyak prasangka terhadap agama lain lahir karena seseorang hanya mengenalnya melalui cerita orang lain, media sosial, atau informasi yang belum tentu benar.
Karena itu, SAK dirancang berbeda dari kegiatan pengenalan agama pada umumnya. Peserta tidak hanya melihat rumah ibadah, tetapi juga berdialog secara langsung dengan tokoh agama, mempelajari sejarah, ajaran, simbol, hingga praktik kehidupan beragama dari perspektif pemeluknya sendiri.
“Kalau selama ini kita sering mendengar penjelasan tentang agama lain dari orang yang bukan penganutnya, di SAK peserta justru belajar langsung dari pemeluk agama tersebut,” demikian semangat yang disampaikan dalam pembukaan kegiatan.
Program ini akan berlangsung selama tujuh pertemuan dengan mengunjungi berbagai komunitas agama dan kepercayaan di Cirebon sehingga peserta memperoleh pengalaman belajar yang utuh mengenai keragaman Indonesia.

Belajar dari Ruang yang Merawat Kerukunan
Pemilihan Pura Agung Jati Pramana sebagai lokasi pembelajaran pertama bukan tanpa alasan.
Ketua Pengurus Pura Agung Jati Pramana, Made Budiana, menjelaskan bahwa pura tersebut menjadi contoh nyata kehidupan lintas agama yang harmonis. Di kawasan Merbabu Asih, tempat pura berdiri, terdapat vihara, masjid, serta panti asuhan milik umat Kristen yang hidup berdampingan.
Bagi pengurus pura, keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan praktik keseharian yang terus dirawat melalui saling menghormati dan membangun komunikasi antarumat beragama.
Ia berharap para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai agama Hindu, tetapi juga membawa pulang pengalaman tentang bagaimana kerukunan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Meneguhkan Moderasi Beragama
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cirebon turut memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan SAK. Dalam sambutannya, Mursana menegaskan bahwa perbedaan agama merupakan kenyataan yang harus dipahami sebagai kehendak Tuhan, bukan alasan untuk saling meniadakan.
Menurutnya, tema “Temukan Diri, Pahami yang Lain” mengandung pesan penting. Peserta diajak semakin memahami ajaran agamanya sendiri, sekaligus membuka ruang untuk mengenal keyakinan orang lain tanpa kehilangan identitas keagamaannya.
Ia mengingatkan bahwa keberagaman merupakan fitrah kehidupan. Karena itu, pendidikan lintas iman menjadi salah satu cara membangun generasi muda yang mampu hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat yang majemuk.

Dari Perkenalan Menuju Percakapan
Berbeda dengan kelas formal, sesi pertama SAK dimulai dengan cara sederhana: seluruh peserta duduk melingkar dan saling memperkenalkan diri.
Mereka berasal dari berbagai daerah, mulai dari Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Kuningan, Tasikmalaya, Ciamis, Karawang, Jakarta, Bali, Lampung hingga Sumatera Utara. Latar belakang agamanya pun beragam, mulai dari Islam, Hindu, Katolik, Kristen Protestan, hingga peserta yang berasal dari komunitas lintas iman serta mahasiswa berbagai perguruan tinggi yang sedang menjalani program magang dan Studi Praksis Sosial di Yayasan Fahmina.
Meski berbeda asal maupun keyakinan, hampir seluruh peserta memiliki harapan yang serupa. Mereka ingin memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai agama lain, mengurangi prasangka, memperluas pertemanan lintas iman, serta menjadi pribadi yang lebih mampu menghargai perbedaan.
Harapan-harapan itu menjadi fondasi awal sebelum memasuki materi pembelajaran.
Mengenal Hindu dari Pemeluknya
Materi pertama disampaikan oleh Made Budiana, didampingi Wayan Suardika dan Made Supartini.
Para narasumber memperkenalkan sejarah perkembangan agama Hindu, masuknya Hindu ke Nusantara, pokok-pokok ajaran, konsep Tri Hita Karana, nilai-nilai etika, hingga simbol-simbol keagamaan yang selama ini sering disalahpahami masyarakat.
Diskusi berlangsung hangat. Peserta mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari perbedaan praktik Hindu di Indonesia dan India, makna reinkarnasi, hingga bagaimana ajaran Hindu membangun hubungan damai dengan pemeluk agama lain.
Alih-alih menjadi ruang ceramah satu arah, kelas berkembang menjadi ruang dialog yang mempertemukan rasa ingin tahu dengan pengalaman hidup para narasumber.

Membangun Perdamaian Dimulai dari Saling Mengenal
Sekolah Agama dan Kepercayaan bukan sekadar program mengenalkan agama-agama di Indonesia. Lebih dari itu, SAK merupakan ruang belajar untuk membangun kepercayaan di tengah masyarakat yang majemuk.
Melalui dialog langsung, pengalaman berkunjung ke rumah-rumah ibadah, serta kesempatan bertanya tanpa rasa takut dihakimi, peserta diajak menyadari bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kenyataan yang perlu dipahami bersama.
Di tengah meningkatnya polarisasi dan mudahnya penyebaran prasangka melalui ruang digital, pendekatan seperti inilah yang menjadi penting. Sebab, perdamaian sering kali tidak lahir dari kesamaan, tetapi dari keberanian untuk saling mengenal.
Dan perjalanan itu dimulai dari sebuah lingkaran kecil di Pura Agung Jati Pramana, ketika orang-orang muda memilih duduk bersama, mendengarkan, lalu belajar memahami satu sama lain. []



