Lembaga:

Dukung kami dengan donasi melalui Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58 a.n. Yayasan Fahmina

Yayasan Fahmina Bekali Peserta SAK Angkatan III Teknik Menulis Refleksi Melalui Kerangka 4P

Yayasan Fahmina menggelar pelatihan penulisan refleksi bagi peserta Sekolah Agama dan Kepercayaan Angkatan III melalui metode 4P untuk memperkuat pembelajaran yang transformatif.

Berikut versi berita yang sudah disesuaikan dengan konteks kegiatan dan informasi yang Anda tambahkan.


Yayasan Fahmina Bekali Peserta Sekolah Agama dan Kepercayaan dengan Teknik Menulis Refleksi Melalui Kerangka 4P

Cirebon – Yayasan Fahmina menggelar pelatihan teknis penulisan refleksi bagi peserta Sekolah Agama dan Kepercayaan (SAK) Angkatan III pada Sabtu, 25 Juli 2026, di Kantor Yayasan Fahmina, Cirebon. Kegiatan ini juga diikuti oleh sejumlah alumni SAK Angkatan I sebagai bagian dari penguatan kapasitas dalam menyusun tulisan refleksi yang selama ini menjadi bagian penting dari proses pembelajaran di setiap sesi SAK.

Pelatihan ini bertujuan memberikan pendalaman teknis agar peserta tidak hanya mampu menuliskan kembali materi yang diterima, tetapi juga mengolah pengalaman belajar menjadi refleksi yang jujur, kritis, dan transformatif.

Sesi dibuka dengan aktivitas sederhana yang mengajak peserta menuliskan satu kata untuk menggambarkan kesan pertama mereka saat mengikuti kegiatan. Beragam respons muncul, seperti adem, happy, beruntung, canggung, penasaran, bingung, hingga kagum. Beberapa peserta juga berbagi pengalaman unik ketika pertama kali datang ke lokasi kegiatan, yang kemudian menjadi pintu masuk untuk memahami pentingnya pengalaman sebagai bahan utama dalam sebuah refleksi.

Dalam sesi yang dipandu oleh Rosidin, peserta diperkenalkan dengan kerangka 4P, yaitu Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan, sebagai panduan menyusun tulisan refleksi yang utuh.

Rosidin menjelaskan bahwa langkah pertama adalah Peristiwa, yakni mendeskripsikan pengalaman secara faktual dengan memenuhi unsur 5W1H. Menurutnya, bagian ini harus memuat informasi yang lengkap mengenai apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan dan di mana kegiatan berlangsung, serta bagaimana peristiwa tersebut terjadi.

Selanjutnya, peserta diajak menggali Perasaan, yaitu mengungkapkan emosi yang muncul selama mengikuti pengalaman tersebut. Perasaan yang dituliskan diharapkan bersifat personal dan autentik sehingga mampu menunjukkan proses batin yang dialami penulis.

Tahap ketiga adalah Pembelajaran, yaitu menemukan nilai atau kesadaran baru yang diperoleh dari pengalaman. Rosidin menekankan bahwa pembelajaran dalam refleksi bukanlah ringkasan materi, melainkan hasil perenungan yang mengubah cara pandang seseorang.

Adapun tahap terakhir adalah Penerapan, yaitu merumuskan komitmen atau langkah nyata yang akan dilakukan setelah memperoleh pembelajaran. Bagian ini menjadi penegas bahwa refleksi harus berdampak pada perubahan sikap maupun tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain memaparkan kerangka 4P, Rosidin juga menjelaskan perbedaan antara tulisan refleksi dengan tulisan akademik, rangkuman, maupun tulisan yang bersifat dogmatis. Refleksi menempatkan pengalaman pribadi sebagai pusat cerita, lengkap dengan dinamika emosi dan proses perubahan diri yang dialami penulis.

Untuk memperkuat pemahaman, peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka diminta menelaah tulisan refleksi yang pernah dibuat, kemudian memilih satu tulisan untuk direvisi berdasarkan kerangka 4P sebelum dipresentasikan di hadapan peserta lainnya.

Dalam sesi umpan balik, Rosidin menilai masih banyak tulisan yang perlu diperkaya, terutama pada bagian peristiwa yang belum menjelaskan konteks secara lengkap. Sementara itu, bagian perasaan, pembelajaran, dan penerapan juga didorong agar lebih personal dan menunjukkan perubahan kesadaran yang benar-benar lahir dari pengalaman mengikuti Sekolah Agama dan Kepercayaan.

Menutup pelatihan, Rosidin mengingatkan bahwa refleksi merupakan bagian penting dari proses belajar di Sekolah Agama dan Kepercayaan. Melalui refleksi, peserta tidak hanya mendokumentasikan pengalaman, tetapi juga mengolahnya menjadi pengetahuan, kesadaran, dan komitmen untuk membangun kehidupan yang lebih inklusif, menghargai keberagaman agama dan kepercayaan, serta memperkuat praktik toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas tulisan refleksi peserta pada setiap sesi SAK, sehingga proses pembelajaran tidak berhenti pada penerimaan materi, tetapi berkembang menjadi pengalaman yang bermakna dan transformatif bagi setiap individu. []

Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58 a.n. Yayasan Fahmina

Terkait

Sekolah Agama dan Kepercayaan (SAK): Menumbuhkan Toleransi Pemuda Lintas Iman di Cirebon

Oleh: Marzuki Rais "Perdamaian tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk memahami, menghormati, dan hidup berdampingan dalam perbedaan." Perbedaan agama...

Populer

Artikel Lainnya