Oleh: Prof. Dr. Faqihuddin Abdul Kodir
Jauh sebelum banyak orang memanggilnya Kyai atau Buya, aku dan para santri Dar al-Tauhid Arjawinangun generasi 1980-an memanggilnya: Bapak.
Ingatan tentang KH Husein Muhammad (KHM) selalu menghadirkan romantika relasi santri-kyai di pesantren. Awal 1985 menjadi momen bersejarah bagi kami. KH Ibnu Ubaidillah Syathori (Abah Inu) pulang dari Makkah, dan KHM dari Kairo. Dua figur muda, cerdas, berdarah pesantren, dan membawa cakrawala baru.
Kami, para santri, menyambut mereka dengan gegap gempita. Menceritakan kisah-kisahnya, meniru gaya bicaranya, bahkan berebut sekadar bersalaman dan mencium tangan. KHM adalah keponakan Abah Inu dan cucu Mbah Syathori. Darah pesantren yang kuat, kecerdasan yang menonjol, dan kepribadian yang hangat membuat semua santri ingin dekat.
Saat itu usiaku baru 13 menuju 14 tahun. Santri yunior, duduk di barisan belakang dalam pengajian bandongan bersama Abah Inu, dan mengaji tahsin serta tahfiz al-Qur’an kepada KHM. Aku sadar posisiku masih kecil. Tetapi aku ingin diperhitungkan.
Aku menghafal percakapan dasar Bahasa Arab bahkan mengembangkannya. Di pesantren, santri yunior wajib berbahasa Arab ketika meminta izin keluar. Aturan itu justru membuatku bersemangat. Dalam bandongan, dari baris belakang, aku memberanikan diri bertanya.
Pendekatan itu berbuah hasil. Abah Inu mulai mengajakku mengikuti pengajian kitab-kitab besar yang biasanya hanya dihadiri santri senior dan ustadz. Sunan Abu Dawud, Tafsir Ibn Katsir, Jam’ul Jawami’, al-Luma’, Qawa’idul Ahkam fi Mashalih al-Anam, hingga al-Ashbah wa an-Nazha’ir. Bahkan terkadang beliau memanggilku duduk di sampingnya agar lebih jelas mendengar dan memahami.
Namun kedekatanku dengan KHM terasa berbeda. Lebih cair. Lebih dialogis. Tidak hanya mengajar di mushala atau kelas madrasah, beliau sering mengajakku berdiskusi, berbincang santai, atau membahas buku yang sedang dibacanya. Jika ada buku menarik, beliau menceritakan isinya, mengajak berdialog, dan dengan ringan meminjamkannya. Bukan hanya kepadaku, tetapi kepada siapa pun yang haus gagasan.
Ia kerap mengundangku ke rumahnya. Bahkan sesekali, malam-malam, mengetuk kamarku di Komplek Uhud. Kami duduk atau rebahan di lantai beralas keramik, berbantal seadanya, dan berdiskusi panjang. Jika sedang galau, beliau menerima tawaranku bertemu teman di luar pesantren yang pandai bermain gitar. Lagu favoritnya: “Widuri” dari Bob Tutupoly.
Kepercayaan itu nyata. Jika beliau berhalangan mengajar, aku diminta menggantikannya—baik mengaji kitab di pesantren maupun mengajar di Madrasah Aliyah Nusantara. Malam sebelumnya, aku dipanggil ke rumahnya, diberi kitab, ditunjukkan halaman yang harus disampaikan, dan diajak mendiskusikan pokok-pokok materinya. Di masa tanpa mesin pencari, satu-satunya rujukan adalah penjelasan langsung darinya.
Beliau bukan hanya mengenyangkan pikiran dan hati kami. Untuk urusan perut pun, beliau dermawan. Mempersilakan makanan di rumahnya, membolehkan dibawa pulang, atau mentraktir gorengan Pasar Induk Arjawinangun—makanan favorit santri saat itu.
Pada pertengahan 1989, ketika seorang kyai berpengaruh menawarkan beasiswa ke Suriah, KHM langsung menyebut namaku. Aku terkejut. Aku bukan keluarga pesantren, tak punya biaya tiket, dan belum percaya diri belajar di negara Arab. Tetapi beliau meyakinkanku. Bahkan menemui orang tuaku.
Sekembaliku dari S2 di Malaysia pada 1999, beliau kembali membuka jalan. Memperkenalkanku kepada Ibu Shinta Nuriyah Wahid di Forum Kajian Kitab Kuning (FK3). Mengajakku bergabung dengan Rahima. Bersama mendirikan Fahmina. Bahkan menyerahkan pengelolaan lembaga kepadaku yang masih asing dengan dunia LSM.
Tulisan-tulisannya tentang gender diserahkan untuk kusunting, kususun, dan kukembangkan. Dari proses itulah lahir buku Fiqh Perempuan pada 2001.
Relasi kami bukan sekadar guru dan murid. Ia dialogis, saling belajar, penuh kesalingan dan resiprositas. Nilai-nilai itulah yang kemudian terefleksi dalam buku Qira’ah Mubadalah (2019)—sebuah metodologi yang lahir dari pengalaman panjang persahabatan seorang kyai dengan santrinya.
Karena itu, buku tersebut sepenuhnya aku dedikasikan untuk KHM—ulama yang tawadhu’, cerdas, demokratis, dan mudah menjadi sahabat bagi siapa pun.
Terima kasih atas segala pengetahuan dan relasi yang mubadalah selama ini. Selamat atas anugerah Doktor Honoris Causa dari UIN Walisongo Semarang pada 26 Maret 2019.
Mubarak fikum wa fi ‘ulumukum.
Boerhaavelaan,
17 Maret 2019



