Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) meluncurkan buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia dalam puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI) di Masjid Masjid Cut Nyak Dien, Minggu (24/5/2026). Buku tersebut memuat profil 31 tokoh ulama perempuan Indonesia yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam kerja-kerja keislaman, kemanusiaan, dan penguatan masyarakat.
Peluncuran buku dilakukan oleh Kyai Faqihuddin Abdul Kodir di hadapan sekitar 1.000 peserta yang mengikuti kegiatan secara luring maupun daring dari berbagai daerah di Indonesia dan jaringan internasional.
Dalam pidatonya, Kyai Faqih menegaskan bahwa penerbitan buku tersebut merupakan langkah awal untuk mendokumentasikan kiprah ulama perempuan yang selama ini belum banyak tercatat dalam tradisi penulisan manaqib.
“Ini ikhtiar kami untuk memulai mencatat, menghormati, meriwayatkan, mentransmisikan jasa-jasa ulama perempuan karena biasanya manaqib itu ulamanya laki-laki isinya,” ujar Kyai Faqih.
Menurut dia, tradisi pembacaan manaqib selama ini lebih banyak berisi kisah ulama laki-laki. Karena itu, KUPI berupaya menghadirkan tradisi baru dengan membacakan dan menuliskan manaqib ulama perempuan Indonesia.
Buku tersebut disusun dari rangkaian pembacaan manaqib selama Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia. Tokoh-tokoh yang ditulis dipilih oleh lima lembaga penyangga KUPI, yakni Rahima, Fahmina, AMAN Indonesia, Gusdurian, dan Alimat. Seluruh pembacaan dilakukan secara daring dan melibatkan jaringan KUPI dari berbagai daerah.
Kyai Faqih menjelaskan, proses penyusunan buku dilakukan secara kolektif oleh kelompok muda kontributor Mubadalah.id yang menuliskan ulang hasil pembacaan manaqib menjadi naskah buku.
Ia menilai kerja dokumentasi tersebut penting sebagai bagian dari upaya membangun ingatan kolektif bangsa terhadap kontribusi ulama perempuan di berbagai ruang pengabdian, mulai dari pesantren, perguruan tinggi, komunitas, hingga gerakan sosial kemasyarakatan.
“Setiap bulan Mei kami ingin mengajak seluruh komponen bangsa untuk mengingat guru, ustaz, ustazah, para penggerak komunitas dan mereka yang telah memiliki kiprah untuk keislaman, kemanusiaan, bangsa, dan negara,” katanya.
Kyai Faqih menegaskan, buku yang diluncurkan saat ini baru merupakan langkah awal. Sebanyak 31 tokoh yang dimuat dalam buku belum dianggap sebagai representasi keseluruhan ulama perempuan Indonesia.
KUPI, kata dia, tengah mengorganisasikan jaringan nasional untuk mendokumentasikan lebih banyak profil ulama perempuan dari berbagai daerah dan latar belakang pengabdian. Dalam satu tahun ke depan, KUPI menargetkan sekitar 2.000 profil ulama perempuan dapat terdokumentasi.
Selain melalui buku, pendataan juga dilakukan melalui platform Upipedia.id yang hingga kini telah memuat lebih dari 130 profil ulama perempuan dan terus diperbarui.
Dalam peluncuran tersebut, Kyai Faqih juga menjelaskan konsep ‘ulama perempuan’ menurut perspektif KUPI. Menurut dia, ulama perempuan tidak terbatas pada perempuan biologis ataupun kalangan pesantren semata, melainkan seluruh individu yang menggunakan ilmu pengetahuannya untuk kerja-kerja keislaman dan kemanusiaan.
“Konsep ulama perempuan menurut perspektif kupi yang secara umum artinya adalah mereka yang menggunakan ilmu pengetahuannya untuk kerja-kerja keislaman dan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, perspektif keulamaan KUPI tumbuh dari perpaduan antara pengetahuan, pengabdian sosial, kerja komunitas, pendidikan, serta perjuangan kemanusiaan dan keadilan gender.
Peluncuran buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia menjadi salah satu agenda utama Hari Puncak BKUPI 2026. Selain peluncuran buku, kegiatan juga diisi dengan khataman Al-Qur’an, pembacaan Ikrar KUPI II, peluncuran Atlas Ulama Perempuan Indonesia, pidato kebangkitan ulama perempuan, pembacaan puisi, hingga pernyataan sikap “Indonesia tanpa kekerasan dari ruang domestik hingga negara”.
Ketua Majelis Musyawarah KUPI Badriyah Fayumi dalam pidato kebangkitannya menyerukan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan, baik di ranah domestik, lembaga pendidikan, ruang publik, maupun kekerasan oleh negara.
Peringatan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia 2026 sendiri berlangsung sepanjang Mei dengan melibatkan pesantren, perguruan tinggi, komunitas, serta jaringan ulama perempuan di berbagai wilayah Indonesia. []



