Oleh: Zaenal Abidin
Catatan Visit Pesantren 2025 merupakan bagian dari rangkaian kunjungan pasca Dawrah Kader Ulama Perempuan (DKUP) yang dilaksanakan pada 9–10 Desember 2025. Kunjungan ini bertujuan mendalami bagaimana alumni DKUP menginternalisasikan nilai keulamaan perempuan dan perspektif keadilan gender dalam pengasuhan pesantren, pendidikan keagamaan, serta kerja-kerja sosial keagamaan di tingkat lokal.
Kunjungan dilakukan ke sejumlah pesantren yang diasuh oleh alumni DKUP di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dari rangkaian pertemuan tersebut, dokumentasi mendalam difokuskan pada pengalaman Nyai Hj. Kurnia Atiullah di Temanggung, Nyai Hj. Najhaty Mu’tabiroh di Magelang, dan Nyai Hj. Nurunniyah di Yogyakarta. Ketiganya menunjukkan bahwa pasca DKUP, kerja-kerja ulama perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk wacana besar, melainkan melalui praktik keseharian yang sunyi, kontekstual, dan berakar pada realitas hidup perempuan.
Di Temanggung, Nyai Hj. Kurnia Atiullah memilih strategi dakwah yang bertahap dan kultural. Sebagai Pengasuh Asrama Mambaul Qur’an MAN Temanggung, ia menggeser isi pengajian dari candaan bernuansa misoginis menuju pembahasan keluarga maslahah, relasi suami–istri yang adil, serta Islam yang ramah terhadap perempuan. Sejak 2022, penguatan peran ulama perempuan menjadi langkah strategis dengan menghadirkan para nyai sebagai penceramah utama. Kajian kitab seperti Sittin al-Adliyah digunakan sebagai pintu masuk membicarakan keadilan gender, sekaligus menjawab resistensi terhadap isu-isu KUPI. Dari ruang-ruang pengajian inilah, kesadaran tentang kekerasan seksual dan kerentanan perempuan mulai dibicarakan secara lebih terbuka.
Sementara itu, di Magelang, Nyai Hj. Najhaty Mu’tabiroh menghadirkan keulamaan perempuan melalui keteladanan hidup. Dukungan penuh dari suami menjadi fondasi penting dalam perjalanan dakwahnya, terutama ketika menyentuh isu-isu sensitif seperti sunat perempuan dan relasi gender. Ia mencatat bahwa praktik sunat perempuan nyaris tidak ditemukan lagi, meski pandangan normatif masih hidup di sebagian masyarakat. Bagi Nyai Najhaty, perubahan sosial sering kali lebih cepat terjadi di tingkat praktik dibandingkan wacana. Selain mengasuh pesantren, ia aktif menulis dan meneliti ulama perempuan lokal, isu pernikahan dini, hingga kekerasan digital terhadap santri perempuan. Kepedulian pada disabilitas dan pengelolaan sampah pesantren menunjukkan bahwa keulamaan perempuan juga menyentuh isu kemanusiaan dan ekologi.
Di Yogyakarta, Nyai Hj. Nurunniyah mengelola Pesantren Annasyat Mlangi pesantren yang berdiri sejak 1976 dengan pendekatan pengasuhan yang sensitif gender dan berorientasi kemandirian. Pendidikan kesehatan reproduksi, edukasi kebersihan menstruasi, serta pembahasan kritis tentang sunat perempuan menjadi bagian dari kurikulum nonformal pesantren. Di tengah kuatnya pandangan patriarkal, Nyai Nurunniyah terus memperjuangkan akses perempuan terhadap ruang ibadah yang layak dan aman. Krisis pengelolaan sampah pasca penutupan TPA Piyungan justru mendorong pesantren mengembangkan pengelolaan lingkungan secara mandiri melalui kompos dan pembatasan sampah plastik.
Pengalaman tiga nyai ini menegaskan bahwa pesantren dapat menjadi ruang transformasi sosial ketika dipimpin oleh ulama perempuan yang berpengetahuan, kontekstual, dan berpihak pada kemanusiaan. Dari Temanggung, Magelang, hingga Yogyakarta, kerja-kerja pasca DKUP menemukan bentuknya dalam praktik sehari-hari yang merawat kehidupan—pelan, konsisten, dan membumi. []



