Lembaga:

Dukung kami dengan donasi melalui Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58 a.n. Yayasan Fahmina

Belajar dari Buddha tentang Makna Doa, Penderitaan, dan Jalan Tengah

Oleh: Zaenal Abidin

“Belajar agama lain bukan untuk melemahkan iman, tetapi memperkuat kesadaran diri. Seperti ajaran Buddha, jalan tengah adalah keseimbangan hidup.”

Suasana di Vihara Dewi Welas Asih, Kabupaten Cirebon, terasa hangat pada Sabtu, 5 Juli 2025. Kursi-kursi ditata membentuk huruf U, menciptakan ruang egaliter yang meniadakan jarak antara pemateri dan peserta. Inilah pertemuan Sekolah Agama dan Kepercayaan (SAK) Angkatan ke-2, program tahunan Yayasan Fahmina bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Cirebon.

Pertemuan kali ini menghadirkan pengalaman unik: belajar ajaran Buddha langsung dari pemeluknya. Sebelum masuk ke materi, peserta diajak refleksi atas kunjungan sebelumnya ke Pura Jati Agung Pramana. Azma, salah satu peserta dari Buntet, mengingatkan kembali kerangka dasar Hindu: tattwa (filsafat), susila (etika), dan upacara (ritual). Ia menyadari bahwa Hindu mengajarkan ketuhanan yang tunggal, sementara dewa-dewi hanyalah manifestasi sifat Tuhan. “Awalnya saya kira umat Hindu menyembah banyak dewa. Ternyata Tuhan itu satu,” ujarnya. Refleksi itu menjadi jembatan menuju pemahaman lintas iman yang lebih dalam.

Membuka Pintu ke Ajaran Buddha

Materi utama disampaikan oleh Romo Junawi dan Ibu Catur. Dengan sederhana, mereka menjelaskan sejarah Siddharta Gautama yang kemudian dikenal sebagai Buddha. Siddharta lahir sebagai pangeran, tetapi meninggalkan kemewahan istana untuk mencari jawaban atas penderitaan hidup. Melalui perenungan panjang, ia mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi, menemukan jalan menuju kebahagiaan sejati.

Ibu Catur menegaskan bahwa inti ajaran Buddha bukan pada penyembahan sosok, melainkan pada pencapaian kesadaran. “Buddha adalah manusia biasa yang tercerahkan. Ia menunjukkan bahwa setiap orang bisa mencapai kebahagiaan dengan berlatih kesadaran,” ujarnya.

Kitab suci Buddha, Tripitaka, menjadi pedoman moral dan spiritual. Melalui ajaran ini, umat diajak memahami Empat Kebenaran Mulia: bahwa hidup penuh penderitaan, penderitaan muncul dari nafsu keinginan, penderitaan bisa diakhiri, dan cara mengakhirinya adalah melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Jalan Tengah sebagai Solusi Hidup

Salah satu hal yang menarik bagi peserta adalah konsep jalan tengah. Romo Junawi menjelaskan bahwa hidup tidak boleh terjebak dalam dua ekstrem: tenggelam dalam kenikmatan duniawi atau menyiksa diri secara berlebihan. Jalan tengah mengajarkan keseimbangan: sederhana, tenang, dan penuh welas asih.

Seorang peserta, Fathur dari komunitas Gusdurian, merefleksikan ajaran ini dengan kehidupannya sehari-hari. “Saya merasa sering berlebihan dalam bekerja, lalu merasa lelah dan kecewa. Jalan tengah memberi saya kesadaran bahwa kebahagiaan ada pada keseimbangan,” katanya.

Bagi banyak peserta, ajaran Buddha memberi sudut pandang baru tentang bagaimana menghadapi penderitaan. Bukan dengan menolak atau melarikan diri, melainkan dengan memahami dan mengendalikannya.

Meditasi sebagai Praktik Kesadaran

Ibu Catur kemudian memperkenalkan praktik meditasi singkat. Dengan duduk hening, mengatur napas, dan menyadari setiap detik, peserta merasakan ketenangan yang jarang mereka alami dalam rutinitas sehari-hari. “Meditasi bukan sekadar duduk diam, melainkan melatih pikiran agar jernih dan tidak mudah dikuasai emosi,” jelasnya.

Bagi peserta SAK, pengalaman meditasi menjadi refleksi spiritual yang melampaui batas agama. Mereka menyadari bahwa ajaran agama, apa pun bentuknya, selalu mengarahkan manusia pada ketenangan batin dan cinta kasih.

Toleransi dari Simbol ke Kesadaran

Marzuki Rais, Ketua Yayasan Fahmina sekaligus fasilitator, menegaskan pentingnya menghargai simbol agama. Ia menyinggung peristiwa pemuda yang membuang sesajen ke laut saat pandemi. “Bagi sebagian orang, itu dianggap mubazir. Tapi bagi penganutnya, sesajen itu sakral. Kalau kita menyepelekan, bisa menimbulkan konflik. Toleransi sejati adalah menghormati yang bagi orang lain suci,” tegasnya.

Pesan itu meneguhkan bahwa belajar agama lain tidak mengurangi iman, justru memperkuat kesadaran diri. Dari lingkaran diskusi di vihara ini, peserta menyadari bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan jalan menuju kebijaksanaan.

Merayakan Kebinekaan Lewat Perjumpaan

Pertemuan di Vihara Dewi Welas Asih menorehkan pelajaran penting: toleransi tidak cukup dipelajari dari buku, tetapi harus dialami dalam perjumpaan nyata. Duduk sejajar, mendengarkan penjelasan pemuka agama, mencoba praktik meditasi, semuanya membentuk pengalaman spiritual yang berkesan.

“Belajar agama lain bukan untuk melemahkan iman, tetapi untuk memperkuat kesadaran diri. Seperti ajaran Buddha, jalan tengah mengajarkan keseimbangan: tidak berlebihan, tidak kekurangan, dan selalu menebarkan welas asih,” pungkas Marzuki Rais.

Feature ini menjadi catatan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan sikap hidup yang tumbuh dari pemahaman dan pengalaman bersama. Dari Cirebon, para peserta SAK membuktikan bahwa perbedaan bisa dirayakan sebagai anugerah, bukan dipertentangkan. []

Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58 a.n. Yayasan Fahmina

Terkait

5 Pilar Fiqh al-Ikhtilaf: Cara Bijak Menghadapi Perbedaan dalam Islam

“Perbedaan bukan ancaman bagi iman, melainkan ruang rahmat untuk membangun dialog, keadilan, dan kemanusiaan.” Perbedaan (al-ikhtilaf) adalah sesuatu yang alamiah...

Populer

Artikel Lainnya