Lembaga:

Dukung kami dengan donasi melalui Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58 a.n. Yayasan Fahmina

Reinterpretasi Relasi Manusia dan Alam untuk Mewujudkan Kesalehan Ekologis

Menggugat cara pandang antroposentris atas konsep rahmatan lil ‘alamin dan menegaskan pentingnya Islam kosmik dalam merespons krisis ekologis.

Oleh: Noer Fahmiatul Ilmia (Staf ISIF dan Gusdurian Cirebon)

“Kesalehan dalam Islam tidak cukup berhenti pada relasi manusia dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga menuntut tanggung jawab etis untuk menjaga alam sebagai bagian dari amanah Ilahi.”

Selama ini konsep Islam “ rahmatan lil ‘alamin” masih berputat pada makna habluminannas. Hanya antroposentris, karena masih fokus pada konsep hubungan manusia dengan manusia, seperti menjaga toleransi dan saling menghargai perbedaan. Padahal terdapat, dalam kalimat “ rahmatan lil ‘alamin” terdapat kata ‘alam   yang jika mengutip Syarif Sayyid Al-Jurjani ‘alam memiliki makna segala sesuatu yang ada selain Allah.

Maka perlu kita pahami bahwa selain Allah bukan hanya manusia, tetapi juga ada tumbuhan, binatang, dan segala sesuatu yang ada di alam raya ini baik di bumi maupun di langit. Salah satu contoh bentuk manifestasi dari inkonsistensi kita dalam memahami “ rahmatan lil ‘alamin” yang hanya fokus pada konsep antroposentris adalah bencana ekologis yang terjadi dalam waktu belakangan ini.

Berita yang ramai sampai hari ini mengenai banjir dan longsor di Pulau Sumatera, yang meliputi Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Tapanuli Utara, dan Kota Medan luput dari kepedulian. Padahal, jika mengutip pernyataan Direktur Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) Rocy Pasaribu dalam harian Tempo, mengatakan bahwa, “Dalam tiga dekade terakhir, inilah bencana dengan dampak terluas dan jumlah kejadian terbanyak dalam satu waktu”.

Penyebab Bencana Alam

Jika dilihat lebih jauh, bencana ekologis ini bukanlah bencana alam murni melainkan ada sentuhan keserakahan manusia. Jika ditelisik lebih dalam, berbagai aktivitas eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan secara masif dan tidak berkelanjutan telah memperparah kerentanan lingkungan di wilayah tersebut. Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa kerusakan ekologi tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari kebijakan dan kepentingan ekonomi yang mengabaikan daya dukung alam.

Melansir data dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mencatat periode 2016 hingga 2025, seluas 1,4 juta hektar hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang telah terdeforestasi akibat aktivitas 631 perusahaan pemegang izin pertambangan, HGU sawit, PBPH, geotermal, izin PLTA dan PLTM. Kondisi ini berdampak langsung pada peningkatan frekuensi dan intensitas bencana ekologis seperti banjir, longsor, serta krisis air bersih yang kini semakin sering dirasakan oleh masyarakat setempat.

Hilangnya tutupan hutan tidak hanya merusak keseimbangan ekosistem, tetapi juga merusak ruang hidup satwa dan menghilangkan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan, sehingga risiko bencana semakin tak terbendung. Karena masifnya laju deforestasi inilah, kita perlu merefleksikan kembali fenomena yang sedang terjadi dan mereaktualisasi konsep Islam rahmatan lil ‘alamin yang memiliki kesadaran akan Islam kosmik bukan hanya Islam antroposentris atau Islam teosentris.

Hubungan antara Manusia dengan Alam

Jika kita lihat, hubungan antara manusia dengan alam masih pada tahap evolusi yang etis. Karena manusia masih memposisikan alam sebagai objek eksploitasi dan manusia sebagai subjek superior yang memiliki pandangan superioritas atas alam itu sendiri. Sehingga terjadilah eksploitasi besar-besaran, deforestasi, penambangan dan eksploitasi alam sebagai komoditas barang yang hanya menyejahterakan kaum kapitalis semata. Paradigma ini pada akhirnya menjadikan manusia sebagai Homo Economicus Materialis.

Pertentangan cara pandang tersebut menunjukkan adanya jurang filosofis dalam memahami manusia di tengah ekosistem. Dari paradigma yang menempatkan alam semata sebagai komoditas ekonomi, muncul kebutuhan akan perspektif alternatif yang lebih etis dan berkelanjutan.

Dalam konteks inilah pemikiran Hendryk Skolimowski, filsafat asal Polandia, menjadi relevan. Ia memiliki pandangan yang sejalan dengan kebutuhan akan hubungan alam dengan manusia. Menurutnya manusia adalah Homo Ecologicus, mahluk yang memiliki hubungan erat dengan alam. Oleh karena itu, manusia tidak bisa dipisahkan dengan alam. Filsafat ekologi ini menekankan pentingnya membangun kembali hubungan yang harmonis antara manusia dan alam sebagai fondasi kehidupan bersama.

Jika kita telah lebih dalam, filsafat ekologi ini sangat sejalan dengan Islam. Islam tidak hanya mengajarkan nilai-nilai ketuhanan tetapi juga memberikan pedoman terhadap umatnya untuk mampu memakmurkan bumi. Meskipun Islam sebagai ajaran yang turun dari langit, bukan berarti menafikan sesuatu yang ada di bumi, sehingga manusia bebas melakukan aktivitas yang ia kehendaki di bumi.

Hal ini sebagaimana tercantum dalam Al-Quran QS. Ar-Rum (30):41, yang menyatakan bahwa kerusakan baik di bumi dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan jauh dari tuntutan ajaran Islam. Sehingga Allah menghendaki agar mereka merasakan akibat perbuatan buruk manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar dan kembali sesuai fitrahnya.

Islam Kosmik

Wacana Islam Kosmik merupakan suatu gagasan yang disampaikan oleh Muhammad Al-Fayyadl, aktivis Front Nasional untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Ia menyebutkan bahwa Islam kosmik sebagai keberislaman dan korelasinya dengan kesadaran dan keberpihkan pada lingkungan hidup. Ini juga merupakan upaya cara memandang Islam bukan hanya sebagai ritual ibadah saja, melainkan sebagai tanggung jawab untuk menjaga alam semesta. Sehingga tercipta keharmonisan antara manusia dengan Tuhan dan alam.

Islam Kosmik sebagai upaya menyatukan antara Tuhan, manusia, dan alam. Karena ketiganya saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Hubungan ketiganya, seperti yang terjadi saat ini, telah tereduksi oleh cara pandang antroposentris, yang memandang manusia sebagai subjek atau aktor utama dalam kehidupan ini, dan selainnya hanyalah sebagai instrumen kebutuhan manusia saja. Oleh karena itu, Fayyadlh mengatakan bahwa diperlukan koeksistensi dan koevolusi keberislaman manusia dan alam sebagai sesama hamba dan ciptaan Allah Swt.

Kesalehan dan ketakwaan dalam Islam Kosmik bukan berdasarkan ibadah akumulasi untung-rugi. Sebaliknya, ia berangkat dari kesadaran eksistensial yang setara antara manusia dan alam di hadapan Allah Swt. Sebab, keduanya sama-sama hidup dan bergerak dalam satu kosmos yang saling terhubung.

Menjaga alam berarti menjaga hubungan baik dengan Allah swt, Tuhan semesta alam, juga sebagai bentuk tanggung jawab manusia kepada-Nya, sekaligus mengubah kesalehan ekologis dalam praktik keberislaman. Dalam kerangka ini, Islam Kosmik memaknai keberislaman sebagai upaya memikirkan alam bukan sekadar sebagai objek, melainkan sebagai subjek kosmos yang turut menjadi bagian dari gerak kehidupan di muka bumi.

Di akhir tulisan ini mari kita renungkan keberagamaan kita agar tidak berhenti pada kesalehan spiritual semata, tetapi juga berkembang menjadi kesalehan ekologis. Kesalehan yang tidak hanya terwujud dalam ritual ibadah kepada Allah Swt. atau amal saleh kepada sesama manusia, melainkan juga dalam tanggung jawab etis untuk menjaga dan merawat alam sebagai bagian dari amanah kehidupan. Sehingga kita tidak hanya mewujudkan Islam yang rahmatan linnas namun benar -benar rahmatan lil ‘alamiin .

Tabik!

 

Sumber tulisan: www.isif.ac.id

Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58 a.n. Yayasan Fahmina

Terkait

5 Pilar Fiqh al-Ikhtilaf: Cara Bijak Menghadapi Perbedaan dalam Islam

“Perbedaan bukan ancaman bagi iman, melainkan ruang rahmat untuk membangun dialog, keadilan, dan kemanusiaan.” Perbedaan (al-ikhtilaf) adalah sesuatu yang alamiah...

Populer

Artikel Lainnya