Oleh: Zaenal Abidin
“Perbedaan adalah keniscayaan. Kita lahir ke dunia pun karena berbeda. Maka perbedaan bukan untuk dipaksakan sama, melainkan dihormati.” – Mursana, Sekretaris FKUB Kabupaten Cirebon.
Pagi itu, Sabtu 5 Juli 2025, halaman Vihara Dewi Welas Asih di Kabupaten Cirebon terasa berbeda. Aroma dupa bercampur semerbak bunga menyambut kedatangan peserta Sekolah Agama dan Kepercayaan (SAK) Angkatan ke-2. Mereka datang dari berbagai penjuru—Cirebon, Kuningan, Majalengka, hingga Jambi dan Jakarta. Tujuannya sama: memperdalam pemahaman lintas iman demi memperkuat kerukunan.
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Yayasan Fahmina dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cirebon, setelah sukses menggelar angkatan pertama pada 2024. Kali ini, giliran umat Buddha yang menjadi tuan rumah, dengan Romo Junawi dan pengurus Vihara menyambut hangat rombongan.
“Perbedaan adalah keniscayaan. Kita lahir ke dunia pun karena berbeda, dari ayah dan ibu. Maka perbedaan bukan untuk dipaksakan sama, melainkan dihormati,” tegas Mursana, Sekretaris FKUB Kabupaten Cirebon dalam sambutannya.
Toleransi sebagai Nafas Kehidupan
Dalam sambutannya, Mursana menekankan bahwa SAK hadir untuk mengenalkan ajaran, simbol, dan praktik keagamaan dari berbagai agama di Cirebon: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, hingga Sunda Wiwitan. Baginya, mengenal adalah langkah awal untuk mengikis prasangka.
“Kalau kita tidak tahu perbedaan, kita mudah berburuk sangka. Padahal, yang membahayakan bangsa ini adalah prasangka. Dengan SAK, kita belajar memahami dan menghormati perbedaan itu,” ujarnya.
Pernyataan ini sejalan dengan pandangan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sering diulang dalam ruang-ruang dialog lintas iman: “Yang berbeda jangan disamakan, yang sama jangan dibedakan.”
Vihara sebagai Ruang Perjumpaan
Suasana semakin hangat ketika Romo Junawi, pengurus Vihara Dewi Welas Asih sekaligus anggota FKUB Kota Cirebon, menyampaikan rasa bangganya.
“Bertemu orang baik dan orang bijak adalah berkah yang sangat mulia. Hari ini saya bahagia, karena kita bisa merekatkan kebinekaan, memperkuat kerukunan, dan meneguhkan moderasi beragama,” ungkapnya.
Ia menambahkan, perbedaan ibarat taman yang indah karena memiliki banyak variasi. Tanpa keragaman, hidup akan terasa hambar. Karena itu, moderasi, toleransi, dan saling menghormati harus dijalankan bukan hanya dalam forum formal, tetapi juga di keseharian.
Doa lintas iman kemudian dipimpin oleh Ibu Catur Widiyaningsih dari Kementerian Agama Kota Cirebon. Dalam tradisi Buddha, ia memanjatkan doa untuk kebahagiaan semua makhluk, sambil mengajak peserta dari agama lain menyesuaikan dengan keyakinannya masing-masing. Momen ini meneguhkan bahwa doa adalah bahasa universal yang menyatukan.
SAK bukan hanya forum seremonial, tetapi ruang pembelajaran. Peserta bisa bertanya langsung tentang ajaran Buddha: mulai dari makna simbol-simbol, praktik ibadah, hingga filosofi hidup sehari-hari.
Bagi sebagian peserta, ini adalah pengalaman pertama memasuki vihara dan merasakan atmosfer spiritual yang berbeda. Seperti yang diungkapkan salah satu peserta dari luar Jawa, “Kami belajar bukan hanya dari kitab, tetapi dari tatapan mata, senyum, dan keramahan tuan rumah. Toleransi itu nyata, bukan teori.”
Jejak yang Menyatukan
Kegiatan SAK Angkatan ke-2 ini hanyalah satu bagian dari rangkaian perjalanan. Setelah belajar di vihara, peserta akan melanjutkan kunjungan ke rumah ibadah lain hingga berakhir di Kuningan untuk mengenal tradisi Sunda Wiwitan. Dari satu perjumpaan ke perjumpaan lain, benang merahnya tetap sama: memperkuat persaudaraan lintas iman.
SAK mengajarkan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan sikap hidup yang lahir dari pengalaman perjumpaan. Dari Vihara Dewi Welas Asih, pesan itu bergema: bahwa kebahagiaan, kedamaian, dan kebinekaan hanya bisa dirawat bersama.
“Semoga semua makhluk berbahagia,” doa penutup dari tradisi Buddha itu terasa begitu dalam. Sebuah harapan yang sederhana, tetapi kuat untuk menjadi pijakan masa depan bangsa yang damai dan berkeadilan. []