Oleh: Zaenal Abidin
“Kalau kita tahu simbol-simbol agama lain, kita bisa lebih menghargai. Jangan menyepelekan yang bagi orang lain sakral, karena di situlah letak toleransi sejati.” (Marzuki Rais, Ketua Yayasan Fahmina)
Suasana hangat menyelimuti Vihara Dewi Welas Asih, Kabupaten Cirebon, pada Sabtu, 5 Juli 2025. Kursi-kursi yang ditata melingkar membentuk huruf U memperlihatkan sebuah ruang yang egaliter: tidak ada yang di depan atau di belakang, semua duduk sejajar. Inilah pertemuan Sekolah Agama dan Kepercayaan (SAK) Angkatan ke-2, program tahunan yang digagas Yayasan Fahmina bersama FKUB Kabupaten Cirebon.
Di hadapan peserta yang datang dari berbagai daerah, Marzuki Rais, fasilitator kegiatan sekaligus Ketua Fahmina, membuka acara dengan nada akrab. Ia memperkenalkan para mahasiswa magang dari Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, STT Jakarta, dan UIN Bandung yang ikut serta dalam program sosial emersion. Mereka hadir bukan hanya sebagai pengamat, tetapi juga ikut belajar bersama tentang upaya membangun toleransi di Cirebon.
“Mereka bukan orang luar, tetapi bagian dari kita yang ingin merasakan proses bertemu dan memahami agama-agama di ruang ini,” ujar Marzuki.
Bagi Marzuki, inti dari SAK adalah belajar agama dari pemeluknya sendiri, bukan dari perspektif luar yang seringkali bias. Ia menyinggung pengalamannya saat kuliah di IAIN, ketika mata kuliah agama-agama timur disampaikan oleh dosen beragama Islam.
“Perspektifnya tetap perspektif Islam, sehingga ada jarak. Dengan SAK, kita belajar langsung dari sumbernya,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap agama memiliki sejarah, ajaran pokok, ritual, dan nilai universal. Dengan mempelajarinya langsung, peserta bisa lebih menghargai simbol dan keyakinan yang hidup dalam agama-agama lain.
Peserta SAK kali ini berjumlah sekitar tiga puluh orang, dengan latar belakang yang sangat beragam. Ada perwakilan Gusdurian, Pemuda Katolik, ISIF, komunitas FKUB kecamatan seperti PERAGA, JABUR, KEMBANG, Saung Ramah, hingga pelajar SMA. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai dari Gebang, Losari, Brebes, hingga Jepara. Cara perkenalan sederhana dengan menyebutkan nama, asal, dan komunitas yang diikuti berhasil menciptakan suasana akrab. Sejak awal, setiap orang merasa bagian dari lingkaran yang sama, tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah.
Sebelum memasuki materi utama tentang agama Buddha, Marzuki mengajak peserta merefleksikan kembali kunjungan sebelumnya ke Pura Jati Agung Pramana untuk belajar Hindu. Azma, salah satu peserta dari Buntet, berbagi pengalamannya. Ia menjelaskan tiga kerangka dasar agama Hindu: tattwa (filsafat ketuhanan), susila (etika), dan upacara (ritual). Menurutnya, Hindu mengajarkan tujuan hidup untuk mencapai kebahagiaan dan bersatu kembali dengan Tuhan atau moksa, melalui hukum karma dan reinkarnasi.
Hal yang membuatnya terkesan adalah pemahaman tentang dewa-dewi. “Awalnya saya kira umat Hindu menyembah banyak dewa. Ternyata Tuhan itu satu, dewa-dewi hanya sifat-sifat Tuhan, mirip dengan konsep asmaul husna dalam Islam,” jelasnya. Temuan ini mengingatkannya bahwa semua agama sejatinya memiliki nilai universal yang sama: keadilan, kesetaraan, dan penolakan terhadap kekerasan. Dengan membandingkan simbol-simbol yang ditemui, peserta seperti Azma dapat melihat titik temu antaragama, sekaligus memahami perbedaan sebagai sesuatu yang wajar.
Marzuki kemudian menegaskan kembali pentingnya memahami simbol agama. Ia mencontohkan kasus pemuda yang membuang sesajen ke laut di masa pandemi. “Bagi sebagian orang, sesajen dianggap mubazir. Tapi bagi penganutnya, itu sakral. Kalau kita menyepelekan, bisa menimbulkan ketersinggungan bahkan konflik. Padahal dalam Al-Qur’an, umat Islam diajarkan untuk tidak menghina simbol-simbol agama lain,” katanya. Menurutnya, menghargai simbol berarti menghormati nilai dan keyakinan yang dipegang teguh oleh pemeluk agama lain.
Dari lingkaran diskusi di Vihara Dewi Welas Asih, terjalin benang merah bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan jalan menuju kebijaksanaan. Dengan mengenal ajaran agama lain secara langsung, peserta dapat membangun rasa empati dan menghargai keragaman. Lebih jauh, mereka belajar memandang keberagaman sebagai bagian dari sunatullah, takdir yang harus diterima dengan syukur.
Program SAK ini juga menunjukkan bahwa toleransi tidak cukup hanya dipelajari di kelas atau melalui buku, melainkan harus dialami dalam perjumpaan nyata. Duduk bersama, mendengar penjelasan dari pemuka agama, menyaksikan ritual, bahkan sekadar mencicipi makanan khas di rumah ibadah, semuanya merupakan pengalaman yang membekas. Dari pengalaman inilah, peserta menemukan makna kebinekaan secara konkret.
“Kalau kita tahu simbol-simbol agama lain, kita bisa lebih menghargai. Jangan menyepelekan yang bagi orang lain sakral, karena di situlah letak toleransi sejati,” pungkas Marzuki Rais. Ucapannya menjadi penutup sesi yang sarat makna, meneguhkan bahwa toleransi bukan hanya slogan, melainkan sikap hidup yang harus terus dipelihara dalam keseharian. []